"kenapa
kamu menangis, dil" tanya mama
Aku menyembunyikan muka di balik bantal yang ku pegang erat-erat.
" Aku ngak lulus ma tes D3 IPB ma" (dengan suara terpatah-patah dan isak tangis).
"Aduh pakai nangis pula anak mama ini cuma karena tidak lulus? Itu berarti Allah sedang merencanakan yang lebih baik untukmu, nak. Sudah, jangan nangis lagi masih ada universitas lain yang menunggu mu" suara mama meyakinkanku
" Aku ngak lulus ma tes D3 IPB ma" (dengan suara terpatah-patah dan isak tangis).
"Aduh pakai nangis pula anak mama ini cuma karena tidak lulus? Itu berarti Allah sedang merencanakan yang lebih baik untukmu, nak. Sudah, jangan nangis lagi masih ada universitas lain yang menunggu mu" suara mama meyakinkanku
Institut pertanian bogor merupakan cita-cita ku untuk bisa
kuliah di sana, menimba ilmu, dan menggapai semua mimpi-mimpi yang telah ku
rancang dari masuk SMA.
"Aku harus bangkit, tidak
boleh menangis lagi. Masih ada jalur SBMPTN untuk bisa lulus di IPB" (sela
ku dalam hati).
Aku memutuskan untuk mengikuti bimbel untuk mengisi waktu
ku selama sebulan libur dan sekaligus belajar ekstra untuk mempersiapkan ujian SBMPTN agar aku lulus di
universitas yang ku impikan, IPB. Singkat cerita akhir dari perjalanan
menemukan IPB harus berakhir, IPB bukan yang Allah inginkan.
Dil, gimana hasil SBMPTN mu,
luluskan di IPB? secara kan kamu sudah ikut bimbel mati-matian "ujar SMS
yang di layangkan hani di ponsel ku"
Mau gimana lagi han, IPB belum di
takdirkan berjodoh dengan ku. Aku lulus di salah satu universitas ternama di
Sumatera Barat, jurusan yang tidak pernah terlintas di benak ku.
"balasku"
Aku di terima di kampus hijau salah satu Perguruan Tinggi Negeri
ternama di pulau Sumatera. Alhamdulillah, namun terkait jurusannya aku tidak
tau kenapa harus di sana, itu sama dengan jurusan pelarian untuk bisa di
katakan orang-orang aku kuliah. Cuma sekedar itu. Hari-hari ku lalui dengan
kurang semangat tersebab ini bukan jurusan favorit ku. Yang terpikir di benak
ku aku bisa mendapat nilai terbaik tanpa harus giat belajar karena jurusan ini
terlalu mudah ku taklukkan (Astagfirullah begitu sombong dan angkuhnya aku)
"Dek,
nama kamu dila kan" sela seseorang yang sudah berdiri di depan ku sedari
tadi
"eh.. Iya kak, ada apa kak?"
"Gini, Dila udah tau kan kelompok mentoringnya?"
"oh berarti ini kak rahma delfita?"
"iya dek, besok loh agenda nya jam 13:15 wib di mushalla fakultas kita"
"sip kakak, nanti dila hadir insyaAllah"
"udah ya, kakak juga ada kuliah lagi sampai ketemu besok"
"sip kak, semangat kak"
"eh.. Iya kak, ada apa kak?"
"Gini, Dila udah tau kan kelompok mentoringnya?"
"oh berarti ini kak rahma delfita?"
"iya dek, besok loh agenda nya jam 13:15 wib di mushalla fakultas kita"
"sip kakak, nanti dila hadir insyaAllah"
"udah ya, kakak juga ada kuliah lagi sampai ketemu besok"
"sip kak, semangat kak"
Bermula dari lingkaran itulah aku mengenal jati diriku yang
mulanya hanya sesosok anak SMA alay yang gaya nya ah kalau di ingat-ingat serba
alay lah pokoknya, mulai dari ucapan, pakaian sampai pola hidup. Aku bersyukur
Allah mempertemukan ku dengan orang-orang yang selalu berusaha memperbaiki
diri. Singkat kata aku mulai belajar hijrah.
Sepintas mulai ku telaah setiap yang Allah sodor kan
rencana-Nya untukku, ah nyatanya aku orang yang paling tidak sabaran dalam
meminta. Ternyata memang, Allah memberikan aku lulus di Fakultas dan
Universitas ini bukan untuk dunia, tapi untuk jalan keterbaikan Akhirat ku.
Terpikir suatu kesimpulan bahwa ketika kita punya rencana dan Allah punya
rencana juga maka solusinya masukkan rencana kita dalam rencana Allah.
Setahun kemudian....
Aku di nyatakan lulus diantara 25 orang dalam program
Exchange Creadit Earning, dan aku
lulus di Institut Pertanian Bogor (IPB). Seakan-akan menyelami mimpi lama yang
terkabulnya dua tahun berikutnya. Alhamdulillah..
Lapis-lapis keberkahan
Menyelami dalam proses sabar dan penuh tawakkal
Ku yakini saat ku tahu dan menenangkan
Bahwa apa yang melewatkanku tidak akan menjadi milikku
Dan apa yang menjadi milikku tidak akan pernah melewatkan ku
Allah tau masa depan
Sementara kita tak pandai membaca masa depan
Selamat menuai dari sabar bermimpi wahai manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar