BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Keberhasilan suatu peternakan tidak pernah lepas dari efisiensi kualitas dan kuantitas pakan. Hijauan merupakan salah satu faktor yang essensial pada pemenuhan pakan pada ternak ruminansia. Pakan berupa hijauan yang sering diberikan pada ternak adalah rumput-rumputan (Gramineae) dan legum (Leguminoseae). Legum sebagai pakan pada umumnya memiliki keunggulan dibandingkan rumput-rumputan.
Salah satu keunggulan legum adalah memiliki nutrisi yang lebih lengkap dibandingkan
Rumput.rumputan, namun legum memiliki kelemahan, yaitu pada saat diberikan pada ternak harus dibatasi karena memiliki kandungan toxici.
Tanah adalah salah satu media tanam yang merupakan faktor yang pokok bagi pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Unsur hara yang dibutuhkan tanaman didapat melalui tanah. Ketersediaan unsur hara inilah yang, menjadikan tanah sebagai faktor pokok dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
1.2.Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
a.
Mengetahui Klasifikasi dan Morfologi Clytoria Ternatea
b.
Mengetahui Klasifikasi dan Morfologi Stylosanthes Guianensis
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Klasifikasi dan Morfologi Clitoria
Ternatea
Kembang atau bunga telang (Clitoria ternatea)
adalah tumbuhan
merambat yang biasa
ditemukan di pekarangan atau tepi hutan. Tumbuhan anggota suku polong-polongan
ini berasal dari Asia tropis, namun sekarang telah menyebar
ke seluruh daerah tropika.
Sejak dulu tumbuhan ini ditanam di
pekarangan sebagai tanaman
hias karena bunganya
yang berwarna biru terang. Bunganya di berbagai tempat Asia Tenggara dimanfaatkan sebagai pewarna makanan
atau kue. Di Malaysia, ekstrak mahkota bunganya dipakai
untuk mewarnai ketan. Di Thailand, minuman penyegar berwarna biru dari
ekstraknya dinamakan nam dok anchan. Terdapat varietas dengan mahkota bunga berwarna putih
Clitoria
ternatea
Asal : Asia
bagian tropis
Deskripsi
- Legume
perennial, dapat menjalar tinggi
- Sebagai
pencegah erosi
- Daun dan
polongan yang masih muda dimakan ternak
- Sistem
perakaran dalam
Kembang
telang (Clitoria ternatea L.)
Klasifikasi:
Kingdom
: Plantae
Divisio
:
Magnoliophyta
Classis
: Liliopsida
Ordo
: Rosiidae
Family
: Rosales
Genus
: Clitoria
Species
: Clitoria ternatea L.
(Sumber:
Steenis. 2002)
Kembang telang termasuk herba.
Tipe batangnya adalah batang rumput karena batangnya yang tidak keras,
mempunyai ruas-ruas yang nyata dan sering kali berongga. Bentuk batangnya bulat
dengan permukaan yang kasar. Arah tumbuhnya membelit ke kiri karena arah
belitan yang berlawanan arah putaran jarum jam. Dan tipe percabangannya
monopodial.
Batang tanaman ini naik ke atas
dengan menggunakan cabang pembelit dan meliliti penunjangnya yang jika kita
ikuti jalannya batang yang membelit itu, maka penunjang akan selalu berada di
sebelah kiri kita. Cabang-cabangnya merupakan pendukung daun-daun dan mempunyai
ruas-ruas yang cukup panjang atau bersifat sirung panjang.
Menurut Gembong Tjitrosoepomo
dalam bukunya Morfologi Tumbuhan (1985:82), arah tumbuh batang kembang telang
adalah membelit ke kiri.
Kembang telang tumbuh ditempat yang kering, belukar atau di pagar-pagar
bahkan ada yang dijadikan sebagai tanaman hias. Perdu ini dapat ditemukan
sampai 700 m diatas permukaan air laut.
Daun nya berupa daun majemuk menyirip gasal dengan 3-9 anak daun yang
berbentuk elips atau bulat telur. Tangkai daunnya pendek dengan ujung daunnya tumpul dan pangkal
runcing. Tepi daun rata dengan panjang 2-7 cm dan lebar 1-4,5 cm. Daun kembang
talang berwarna hijau dan memiliki garis penunpu berbentk garis.
Bunganya berupa bunga tunggal dan berbentuk seperti kupu-kupu yang keluar
dari ketiak daun dengan panjang mahkota 3,5-4 cm dan berwarna biru nila dengan
warna putih atau kekuningan dibagian tengahnya.
Buahnya berupa buah polong dan berbentuk pipih dengan panjang 5-10 cm. Buah
nya berisi 6-10 biji yang bentuknya seperti ginjal. Perasan bunga atau daun
kembang talang digunakan sebagai mewarnai kue atau makanan bahkan untuk warna
tikar.
Kandungan yang terdapat dalam perdu ini antara lain saponin, flavonoid,
alkanoid, ca-oksalat, dan sulfur. Daunnya mengandung kaemperol-3-glucoside dan
triterpenoid yang berfungsi sebagai pematangan bisul.
B.
Klasifikasi dan Morfologi Stylosanthes
Guianensis
Tanaman
Leguminosa Styloshanthes guianensis (Stylo) merupakan salahsatu tanaman
pakan yang telah beradaptasi baik dan tersebar diberbagai agroklimat di
Indonesia yang sangat disukai ternak, kaya akan protein dan mineral.
Kegunaannya cukup beragam, banyak ditanam dalam sistem tumpang sari baik untuk
tanaman pangan atau hijauan makanan ternak, dapat juga sebagai pelindung
tanaman lain dan penutup tanah,menyuburkan tanah dan mencegah terjadinya erosi.
Sebagaimana
telah diketahui, pada akar tanaman legum terdapat bintil-bintil akar yang
mengandung bakteri Rhizobium, yang menjalin interaksi simbiosis dengan tanaman
inang dalam proses fiksasi (N) secara biologis dari udara sehingga dapat
berperan meningkatkan kesuburan tanah. Dengan demikian leguminosa Stylosanthes
guianensis dapat diperhatikan keberadaannya sebagai alternatif hijauan
potensial sebagai pakan ternak.
Stylosanthes guianensis
Asal : Amerika Tengah, Amerika Selatan
Deskripsi
- Leguminosa perennial, dengan tumbuh tegak atau semi
tegak
- Tinggi dapat mencapai 1,5 meter
- Daunnya
trifoliat dengan anak daun warna hijau berbantuk langset dengan ujunya
meruncing
- Bunganya kecil berwarna kuning atau putih
- Buahnya berbantuk polong
Taksonomi
Divisi : Spermatophyta
Sub devisi : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Polypetales
Familia : Leguminoseae
Genus : Stylosanthes
Spesies : S. guianensis
1.
Karakteristik
Pertumbuhan tanaman
stylo bersifat perennial kadang-kadang semitegak.Batang sedikit berbulu, tinggi
tanaman dapat mencapai 1,5 m, daunberwarna hijau berbentuk elip atau pedang
yang ujungnya meruncing panjangnya 1-6 cm, tangkai daun panjangnya 1 sampai 10
mm dan kelopak tangkai daun berbentuk dua gigi.
Karangan bunga terdiri
dari beberapa kumpulan bunga, tiap karangan bunga mengandung 2 sampai 40 bunga
yang kecil berwarna kuning bertulang belakang dengan semacam daun-daun
penyangga. Bunga standar agak bulat dengan panjangnya bervariasi antara 4
sampai 8 mm. Bunga dasar panjangnya 3,5 sampai 5,0 mm berbentuk sabit.
Polong tidak berbulu panjangnya
2 sampai 3 mm dan lebar 1,5 sampai 2,5 mm mengandung satu biji. Warna biji
kuning kecoklat-coklatan. Stylo dapat hidup di daerahdaerah tropik yang humid
dengan curah hujan sebanyak 890 sampai 4.096 mm tiap tahun. Legum ini tumbuh
pada variasi tanah yang luas bahkan di tanah yang kurang subur (Soedomo-
Reksohadiprodjo, 1985).
Legum stylo lebih tahan
kering, toleran terhadap tanah yang asam dengan drainase yang jelek dibanding
dengan varietas lain seperti Stylosanthes guianensis (misalnya : cv. Scofield,
Cook dan Graham) tetapi tidak toleran terhadap naungan. Bunga menyebar dengan
biji yang terlempar bila masak, sebagian biji berkulit keras.
2.
Sisitematika
Dalam genus
Stylosanthes yang termaksud sub-famili papilionaceae terdapat dua spesies dengan
beberapa cultivarnya yaitu :
1. Stylosanthes guianensis dengan
cultivar : CV. Schofield. CV. Cook, CV.Endeavour, CV.Oxley, CV. CIAT 184.
2.
Stylosanthes humilis dengan cultivar : CV. Paterson, CV. Lawson dan CV.
Gordon.
Gambar 3. Tanaman stylo siap dipanen
ditandai dengan mulai berbunga.
Stylosanthes
guianensis cultivar CIAT 184 termasuk sub-famili
Papilionaceae berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Menurut
(Soedomo-Reksohadiprodjo, 1985) sistematika Stylosanthes guianensis adalah
sebagaiberikut :
Phylum
: Spermatophytae
Sub
phylum : Angiospermae
Classis
: Dicotyledoneae
Ordo
: Rosales
Sub
Ordo : Rosinae
Tabel
2. Kandungan dan komposisi kimia Stylosanthes guianensis
|
Kandungan
|
Komposisi
|
|
|
(*) (**)
|
|
Bahan Kering (%)
|
15 23
|
|
Air
|
85 77
|
|
BO
|
92 90
|
|
Abu
|
8 10
|
|
Protein Kasar
|
16 17
|
|
Serat Kasar
|
-
28
|
|
NDF
|
68 57
|
|
ADF
|
46 42
|
|
Energi Kasar (ml/kg)
|
19,4 18,2
|
Sumber : (*)Thang, 2010 (**) Hutasoit, 2010
Famili : Leguminoseae
Sub Famili :
Papilionaceae
Genus : Stylosanthes
Species : Stylosanthes
guianensis
Cultivar : CIAT 184
Stylosanthes
guianensis dengan Cultivar CIAT 184 berasal dariColombia. Rekomendasi terhadap
tanaman ini adalah tahan terhadappenyakit anthracnose di Asia Tenggara (Horne
dan Stur. 1999). Penyakitanthracnose disebabkan oleh jamur anthracnouse,
mengakibatkan tanaman menjadi layu, menguning dan mati.
Pemotongan
(Panen) pada Tanaman Stylo
Umur
tanaman berpengaruh pada kandungan nutrisi dan produksi tanaman stylo.
Pemotongan lebih awal akan meningkatkan kandungan protein kasar pada daun dan
batang, namun menurun pada produksi biomassa dan menurun pada kandungan dinding
sel.
Pada
pemotongan yang lebih lama produksi tanaman meningkat, namun kualitasnya
menurun berhubungan dengan kandungan dinding sel meningkat dan kandungan
protein kasar menurun (Boschini, 2002). Umur pemotongan (panen pertama) pada
tanaman yang ideal dilakukan pada umur tanaman 4 bulan atau 126 hari setelah
tanam (HST) atau pada saat tanaman mulai/
menjelang
berbunga, ditandai jumlah tanaman yang berbungan mencapai 5-10%. Panen
berikutnya dilakukan 50-60 hari pada musim hujan dan 60-70 hari pada musim
kemarau (Hutasoit, 2010).
PEMANFAATAN STYLO (Stylosanthes guianensis)
SEBAGAI PAKAN TERNAK
1.Kandungan dan
Komposisi Stylosanthes guianensis
Kandungan
dan komposisi kimia Stylosanthes guianensis sudah banyak dianalisa secara
proksimat, komposisinya terutama protein sangat bervariasi namun secara umum
relatif lebih tinggi dibanding rumputrumputan.Kandungan serat cukup tinggi
sehingga di samping sebagai sumber protein juga dapat digunakan sebagai sumber
serat.
Sehubungan
dengan hal itu dapat direkomendasi pemberian 100% Stylo dalam pakan ternak
kambing. Dalam hal palatabilitas kambing lebih memilih pakan hijauan berupa
leguminosa (daun-daunan) dibanding rumput. Kandungan dan komposisi kimia
tanaman Stylosanthes guianensis diperlihatkan pada tabel 2.
2.Stylosanthes
Guianensis sebagai Pakan Ternak
Menurut
pengamatan di lapangan jenis rumput ini sangat disukai ternak ruminansia
seperti kambing, domba maupun sapi dan kerbau. Juga digunakan sebagai feed
suplement untuk ternak ayam, babi dan ikan. Dapat diberikan dalam keadaan segar
atau kering diproses dalam bentuk tepung daun. Dari segi penelitian sangat baik
kualitas dan kuantitasnya dengan produksi tanaman 40 ton/ha/tahun bahan kering
(BK). Legum stylo masih dapat tumbuh dengan baik pada musim kemarau
yang panjang.
Salahsatu kelebihan dari rumput ini adalah daun dan batang lembut walaupun umur
tanaman sudah cukup tua karena panen / pemotongan yang terlambat, sehingga
pemberiannya kepada ternak masih baik dilakukan karena tidak berpengaruh
terhadap palatabilitas ternak.
3.Legum Stylo
untuk Rumput Potongan
Pemanfaatan
tanaman legum stylo dilakukan dengan cara potong angkut (cut and carry system).
Keuntungan sebagai potong angkut adalah ternak tetap berada di dalam kandang
sehingga mudah dimonitor kondisinya. Sedangkan kerugiannya yaitu membutuhkan
biaya operasional seperti
minyak (bahan
bakar) untuk pemotongan dan pengangkutannya. Tenaga yang dibutuhkan juga
bertambah untuk memotong rumput, melangsir dan bongkar muat. Namun kelebihannya
stylo mengandung protein serta mineral yang tinggi.
Stylo
tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk
pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan 20-25 cm di atas
permukaan tanah. Berbeda dengan jenis rumputan, umur panen lebih singkat. Panen
pertama 3 bulan (90 HST) sedangkan penen berikutnya 30-40 hari pada musim
penghujan dan 40-50 hari pada musim kemarau dengan tinggi pemotongan 5-10 cm
dari permukaan tanah.
4.
Legum Stylo untuk Padang Pengembalaan
Sebagai
padang pengembalaan legum stylo termaksud salahsatu legum yang tidak tahan
renggutan dan injakan, legum ini tidak tahan pengembalaan berat tetapi dengan
produksi bijinya yang baik regenerasi tanaman mudah tumbuh kembali dengan cepat
merapat dan menutup tanah.
Menurut
Yusuf dan Partridge (2002) legum stylo cocok dikombinasi untuk disebarkan pada
padang rumput, dapat merubah komposisi botani menuju ke spesies yang lebih
produktif berpengaruh baik pada ternak dan tumbuh lebih cepat.
BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kembang atau bunga telang (Clitoria ternatea)
adalah tumbuhan
merambat yang biasa
ditemukan di pekarangan atau tepi hutan. Tipe
batangnya adalah batang rumput karena batangnya yang tidak keras, mempunyai
ruas-ruas yang nyata dan sering kali berongga. Bentuk batangnya bulat
dengan permukaan yang kasar. Daun nya berupa daun majemuk
menyirip gasal dengan 3-9 anak daun yang berbentuk elips atau bulat telur. Bunganya
berupa bunga tunggal dan berbentuk seperti kupu-kupu yang keluar dari ketiak
daun dengan panjang mahkota 3,5-4 cm dan berwarna biru nila dengan warna putih
atau kekuningan dibagian tengahnya.Buahnya berupa buah polong dan berbentuk
pipih dengan panjang 5-10 cm. Buah nya berisi 6-10 biji yang bentuknya seperti
ginjal.
Tanaman Leguminosa Styloshanthes
guianensis (Stylo) merupakan salahsatu tanaman pakan yang telah beradaptasi
baik dan tersebar diberbagai agroklimat di Indonesia yang sangat disukai
ternak, kaya akan protein dan mineral. Tanaman Leguminosa Styloshanthes
guianensis merupkan Leguminosa perennial, dengan tumbuh tegak atau semi tegak.Tinggi
dapat mencapai 1,5 meter. Daunnya trifoliat dengan anak daun warna hijau
berbantuk langset dengan ujunya meruncing. Bunganya kecil berwarna kuning
atau putih. Buahnya berbantuk polong.
3.2. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan
pembaca maupun peternak dapat memanfaatkan jenis-jenis legum (Clitoria Ternatea dan Stylosanthes Guianensis) sebagai pakan
ternak untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak.