Rabu, 28 Oktober 2015

Pelajaran Hari ini

Saat kita memutuskan membenci seseorang,
maka ketahui lah : ada saat dimana kita bisa merasakan peduli dengan orang tersebut.
entah dalam situasi yang bagaimana.
jadi intinya, menyukai dan membenci itu relatif. bukan sesuatu yang bertahan lebih lama.
untuk itu, boleh membenci tapi jangan bertahan lama dalam kebencian itu.
karena hidup sekali bahkan tidak cukup untuk saling menyayangi, bukan?

Kamis, 22 Oktober 2015

SELEKSI



SELEKSI INDIVIDU SECARA UMUM
Paper ini diajukan sebagai tugas kuliah dengan mata kuliah Ilmu Pemuliaan Ternak yang dibimbing oleh ibu Dr.Ir.Hj. TINDA AFRIANI, MP                   OLEH :
KELOMPOK 1
PARALEL 09
REFI SARTIKA        1410612159
SONIA SRI SYAFPUTRI     1410611037
DWI RAHMADANI MAHARDIKA          1410611022
RAHMAD JAYASMAN
AHMAD TOHIR       1410611061
SHERLI NOVIA PUTRI      1410611064

AHMAD TOHIR       1410611061
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah tentang “Seleksi Individu secara umum dalam pemuliaan Ternak”. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.
            Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita amin.




Padang, 18 oktober 2015

                                                                                                                        Penulis










DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………..………………………………….....……          i
DAFTAR ISI ..………………………………………………………......….           ii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang………………………………………………………….           1
1.2     Rumusan Masalah………………………………………………………           1
1.3     Tujuan……………….………………………………………………….            1
                                                           
BAB II. PEMBAHASAN                                                                            
2.1     Pengertian Seleksi Ternak……………………………….......................            2
2.2     Sumber informasi untuk seleksi.............................................................. 4
2.3      Seleksi Ganda………………………………………………………….            7

BAB III. PENUTUP                        
3.1     Kesimpulan………………………………………………………………          12
3.2   Saran.........................................................................................................          12

DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Ternak mempunyai arti penting dalam bidang pertanian pada hampir semua Negara di dunia ini. Sumbangannya terhadap kesejahteraan manusia amat banyak dan bermacam-macam. Antara lain di pergunakan untuk menarik dan mengangkut orang maupun barang-barang, menghasilkan bahan untuk pakaian, sepatu, hasil-hasil industri dan lain sebagainya. Oleh karenanya untuk membantu kelancaran produski yang dihasilkan disini dibutuhkan peranan para peternak dan petani itu sendiri. Meningkatnya hasil produksi dari ternak tersebut harus sejalan dengan apa yang kita berikan kepada ternak berupa pakan, pakan yang dimaksud disini adalah makanan yang dapat mempertinggi kualitas dari ternak itu sendiri.
Bila pakan telah tersedia cukup belum berarti hanya sampai disitu peran peternak melainkan perlu adanya keterampilan khusus yang dimilikioleh peternak misalkan bagaimana seorang peternak membuat suatu manajemen yang baik dan membuat sedemikian rupa dan mengetahui pedigri ataupun silsilah dari ternak itu. Ini bertujuan untuk meningkatkan perfomans dari ternak tersebut sehingga dapat menghasilkan ternak yang memiliki prestasi yang tinggi. Dalam makalah inipun kami akan menyajikan beberpa bentuk seleksi dimana dengann cara seleksi ini peternak dapat menyeksi dan menentukan ternak mana yang memiliki potensi dan produksi yang lebih besar.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini, yaitu :
a.      Apa yang dimaksud dengan seleksi ?
b.      Bagaimana Sumber Informasi Untuk Seleksi?
c.       Apa itu seleksi ganda dan metode-metode seleksi ganda?
1.3.Tujuan
Adapun tujuan makalah ini, yaitu :
a.       Mahasiswa dapat mengetahui apa itu seleksi.
b.      Mahasiswa dapat memahami darimana saja sumber informasi untuk seleksi.
c.       Mahasiwa dapat mengetahui seleksi ganda dan metode-metode nya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Seleksi
Dalam konteks pemuliabiakan ternak , seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang disukai yang akan dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya.Tujuan umum dari seleksi adalah untuk meningkatkan produktifitas ternak melalui perbaikan mutu genetic bibit. Dengan seleksi , ternak yang mempunyai sifat yangdiinginkan akan ddipelihara , sedangkan ternak-ternak yang mempunyai sifat yangtidak diinginkan akan disingkirkan.Dalam melakukan seleksi , tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih dahulu, missal pada ayam , tujuan seleksi ingin meningkatkan produksi telur , berat telur, atau kecepatan pertumbuhan.
Yang diseleksi itu ialah seperti karakter-karakter :
1.      Ketahanan terhadap cuaca, suhu dan kekeringan.
2.      Ketahanan terhadap sejenis hama.
3.      Meningkatkan mutu dan jumlah kawinan
4.      Membuang karakter-karakter buruk atau yang tak ekonomis, sehingga karakter-karakter baik saja yang menonjol.
Kenapa ada seleksi?
Pada umumnya di alam sifat genetis penduduk suatu spesies sangat heterozigot. Ini karena :
1.      Tempat hidup berbeda-beda, daya dan arah mutasi pun berbeda-beda pada gen yang sama.
2.      Lingkungan berbeda ekspresi suatu gen yang sama bias berbeda
3.      Kawin acak (random) selalu terjadi di alam, dan makin acak perkawinan makin heterozigot lah genotipe.
Cara seleksi ada beberapa tahap atau cara, yaitu :
1.      Memilih bibit
2.      Mencari lingkungan dan cara yang paling cocok dan ekonomis bagi pembiakan bibit
3.      Mengadakan breeding
4.      Membuat mutasi induksi
5.      Memilih hasil breeding atau mutasi yang paling baik dan cocok pada suatu daerah
6.      Menyebarkan bibit hasil breeding atau mutasi induksi yang terpilih.
Ada beberapa dua hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan seleksi:
1. Tujuan seleksi harus jelas, misalnya kalau pada sapi apakah tujuannya untuk meningkatkan produksi susu atau produksi daging, atau keduanya.
2. Seleksi perlu waktu
Kemajuan seleksi dipengeruhi oleh beberapa factor, yaitu :
a.       Seleksi Diferensial (S)
Seleksi diferensial adalah keunggulan ternak-ternak yang terseleksi terhadap rata-rata populasi (keseluruhan ternak).
Contoh 1: rata-rata produksi susu laktasi satu sapi Fries Holland yang terseleksi adalah 3500 liter, sedangkan rata-rata produksi populasi adalah 3300 liter. Seleksi diferensial (S) = 3500-3300 liter = 200 liter.Kalau sifat tersebut dapat diukur pada ternak jantan dan betina, maka seleksi biasanya dilakukan secara terpisah. Seleksi diferensial adalah rata-rata darikeduanya.
Contoh 2: Rata-rata bobot sapih populasi (seluruh ternak)  domba Padang yang betina adalah 9 kg dan jang jantan 13 kg. Rata-rata bobot sapih ternak-ternak yang terseleksi yang betina adalah 12 kg dan yang jantan 15kg.
S_= 15 – 13 kg = 2 kg
S_= 12 – 9 kg = 3 kg
Rata-rata seleksi diferensial = 2+3 ⁄ 2= 2,5 kg                                                                                     
b.      Heritabilitas
Kata heritabilitas berasal dari bahasa inggris “Heritability” yang berarti kekuatan/ kemampuan penurunan suatu sifat. Kata ini digunakan untuk mengungkapkan kekuatan suatu sifat diturunkan pada generasi berikutnya.Dalam pemuliabiakan ternak nilai ini perlu diketahui sebelum melakukan perbaikan mutu bibit/genetik ternak.Kegunaan diketahuinya nilai heritabilitas adalah sebagai berikut:
1. mengetahui kekuatan suatu sifat akan diturunkan oleh tetua padaanaknya
2. merupakan suatu petunjuk tentang keberhasilan program pemuliabiakan
3. semakin tinggi nilai heritabilitas, semakin baik program perbaikan mutubibit yang diharapkan
Berdasarkan ungkapan ragam di atas, heritabilitas tidak lain adalah proporsi ragam genetik terhadap ragam fenotip.
c.       Interval Generasi
Interval generasi dapat diartikan sebagai rata-rata umur tetua/induk ketika anaknya dilahirkan. Setiap jenis ternak mungkin mempunyai interval generasi yang berbeda. Interval generasi dipengaruhi oleh umur pertama kali ternak tersebut dikawinkan dan lama bunting, dengan demikian interval generasi oleh faktor lingkungan seperti pakan dan tatalaksana. Pemberian pakan yang jelek dapat memperpanjang interval generasi. Semakin cepat interval generasi, semakin cepat perbaikan mutu bibit yang diharapkan. Dugaan Kemajuan SeleksiKemajuan seleksi dapat diduga dengan rumus sebagai berikut:
R=Sh2
Dimana :R = kemajuan seleksi per generasi
S = Seleksi diferensial
h2=heritabilitas
Apabila kita ingin mengetahui kemajuan genetik per tahun maka rumusnya menjadi:Dimana: l = interval generasi
Macam-macam Seleksi
Berdasarkan prosesnya, seleksi dibedakan menjadi 2, yaitu :
1.      Seleksi Alam
Pada seleksi alam ada kekuatan yang secara alami bertanggungjawab terhadap proses yang menentukan individu-individu ternak dapat bertahan pada lingkungan tertentu. Pada umumnya seleksi alam terjadi pada hewan yang hidup dialam bebas.
2.      Seleksi buatan
Merupakan kebaikan dari seleksi alam, karena pada dasarnya seleksi melibatkan campur tangan manusia. Manusia memilih ternak-ternak sesuai dengan criteria yang telah ditentukan.
2.2. Sumber Informasi Untuk Seleksi
Langkah awal pada pelaksanaan seleksi adalah tersedianya informasi tentang keunggulan ternak (selanjutnya dikenal dengan istilah nilai pemuliaan, NP atau Breeding Value). Mengingat bahwa tujuan perbaikan mutu genetik adalah untuk menghasilkan genotype sebaik mungkin yang akan lebih mengefesiensikan produksi pada lingkungan tertentu.  Maka langkah mencapai hal tersebut adalah melalui estimasi NP. Sumber informasi yang digunakan untuk mengestimasi nilai pemuliaan ada empat, yaitu :
1.      Seleksi Individu (Performance Test)
Yaitu seleksi untuk ternak bibit yang didasarkan pads catatan produktifitas masing-masing ternak. Seleksi individual pada ternak sapi adalah cara seleksi yang paling sederhana dan mudah dilakukan di pedesaan dengan dasar bobot sapih anak sapi yang ada dan sebagainya. Seleksi individu adalah metoda seleksi yang paling sederhana paling banyak digunakan untuk memperbaiki potensi genetik ternak. Seleksi ini sering dilakukan jika : 
1.Fenotip ternak yang bersangkutan bias diukur baik pada jantan atau betina.
2.Nilai heritabilitas atau keragaman genetic tinggi. Seleksi bisa dilakukan dengan memilih ternak-ternak terbaik berdasarkan nilai pemuliaan.
Dalam aplikasi dilapangan, jika memungkinkan, nilai heritabilitas dan nilai pemuliaan ternak jantan dan betina dipisah, kemudian dipiilih ternak-ternak terbaik sesuai keperluan untuk pengganti. Pada ayam pedaging, seleksi individu sering dan lebih mudah ddilakukan karena sifat tumbuh bisa diukur langsung baik pada jantan ataupun betina.
Demikian juga lingkungan yang diberikan biasanya sama, seperti dalam satu kandang ayam-ayam berasal dari tetasan yang sama, pakan sama, dan perlakuan yang sama. Sering seleksi hanya berdasarkan pertimbangan fenotip saja tidak perlu menduga nilai pemuliaan. Seleksi individu akan semakin rumit apabila banyak faktor yang mempengaruhi fenotip , seperti pada domba , babi , dan sapi perah. Sebagai contoh, apabila kita ingin memilih domba berdasarkan berat saja, maka yang akan terpilih adalah domba-domba jantan yang berasal dari kelahiran tunggal, padahal domba yang berasal dari kelahiran kembar mungkin mempunyai potensi genetik tinggi.

2.      Seleksi Silsilah (Pedigree Selection)
Seleksi yang dilakukan berdasarkan pada silsilah seekor ternak. Seleksi ini dilakukann untuk memilih ternak bibit pada  umur muda, sementara hewan muda tersebut belum dapat menunjukkan sifat-sifat produksinya. Pemilihan Bibit Ternak (contoh : ternak kambing/domba)  Pemilihan bibit ternak bertujuan untuk memperoleh bangsa-bangsa ternak yang memiliki sifat-sifat produktif potensial seperti memiliki persentase kelahiran anak yang tinggi, kesuburan yang tinggi, kecepatan tumbuh yang baik serta ppersentasi karkas yang baik dan sebagainya. Kriteria - kriteria yang biasa dipergunakan sebagai pedoman dalarn rangka melaksanakan seleksi atau pemilihan bibit ialah : bangsa ternak, kesuburan dan persentase kelahiran anak, temperamen dan produksi susu induk, produksi daging dan susu, recording dan status kesehatan temak tersebut.
1.      Bangsa
Pemilihan jenis ternak misalnya (kambing/domba) yang hendak diternakan biasanya dipilih dari bangsa ternak kambing/domba unggul
2.      Kesuburan dan persentase kelahiran anak yang tinggi
Seleksi calon induk maupun pejantan yang benar jika dipilih dan turunan yang beranak kembar dan mempunyai kualitas kelahiran anak yang baik.
3.      Temperamen dan jumlah produksi susu induk
Induk yang dipilih hendaknya sebaiknya memiliki temperamen yang baik, mau merawat anaknya serta selalu siap untuk menyusui anaknya.
4.      Penampilan Eksterior
Penampilan eksterior ternak bibit harus menunjukkan kriteria yang baik untuk bibit baik ternak jantan maupun betinanya (induk). Untuk memberikan penilaian keadaan atau penampilan eksterior dapat dilakukan dengan melakukan perabaan/pengukuran ataupun pengamatan.
3.      Uji Keturunan (Progeny Test)
Sering suatu sifat hanya muncul pada salah satu jenis kelamin saja ,misalnya produksi susu. Tetapi keunggulan potensi genetik ternak jantan untuk produksi susu juga sangat penting, karena pada umumnya ternak jantan dapat mengawini banyak betina. Apabila keadaan ini terjadi, maka bisa dilakukan uji Zuriat.Uji Zuriat adalah suatu uji terhadap seekor atau sekelompok ternak berdasarkan performance atau tampilan dari anak-anaknya. Uji ini lazim digunakan untuk evaluasi pejantan karena pejantan biasanya banyak menghasilkan keturunan. Keberhasilan uji Zuriat tergantung pada syarat-syara berikut ini :
1.Pejantan diuji sebanyak-banyaknya (minimal 5-10 ekor tergantung jumlah anak yang dihasilkan).
2.Pengawinan pejantan dengan betina dilakukan secara acak untuk menghindari jantan-jantan mengawini betina yang sangat bagus atau sangat jelek.
3.Jumlah anak per pejantan diusahakan sebanyak mungkin (minimal 10 anak)
4.Jangan dilakukan seleksi terhadap anak-anaknya sebelum uji selesai.
5.Anak-anak seharusnya diperlakukan sama untuk mempermudah dalam membandingkan.
4.      Seleksi Kekerabatan (Family Selection)
Yaitu seleksi individu atas dasar performans kerabat-kerabatnya (misalnya saudara tiri sebapak atau saudara kandung). Seleksi kerabat dilakukan untuk memilih calon pejantan sapi perah dengan tujuan untuk meningkatkan produksi susu  yang tidak dapat diukur pada ternak sapi jantan, dengan mengukur produksi kerabat-kerabat betinanya yang menghasilkan susu. Seleksi kekerabatan biasa dilakukan apabila :
1.Nilai heritabilitas rendah
2.Ternak betina banyak menghasilkan keturunan
3.Ternak diberi perlakuan khusus sehingga tidak bisa dipakai sebagai pengganti.

Sebagai contoh pada ayam, suatu seleksi ditunjukan untuk mencari ayam-ayam yang tahan terhadap penyakit spesifik. Anak-anak dari suatu keluarga dibagimenjadi 2 kelompok ; satu kelompok untuk ayam pengganti , dan kelompok lain yaitu ayam-ayam yang dipakai untuk percobaan yang diberi perlakuan penyakit. Ayam yang diberi perlakuan penyakit tidak bisa dipakai sebagai pengganti, karena ternak-ternak pengganti harus bersih dari penyakit. Hasil test kemudian dievaluasi dan ayam-ayam pengganti yang dipakai adalah anak-anak yang berasal dari famili terbaik berdasarkan daya tahan dari performa saudara-saudaranya.

2.3. Seleksi Ganda
Pada kenyataannya seleksi terhadap sifat tunggal relative jarang dilakukan. Misalnya saja, pemula ternak (breeder) sapi perah menyeleksi sekaligus produksi susu dan kadar lemak susu, pembibit sapi potong menyeleksi bobot lahir, bobot sapih dan bobot umur satu tahun, dan sebagainya.
Tujuan seleksi banyak sifat adalah meningkatkan nilai pemuliaan hasil kombinasi sejumlah sifat (aggregate breeding value) pada suatu populasi. Peningkatan nilai pemuliaan pada suatu populasi mengandung arti peningkatan nilai pemuliaan per individu ternak untuk sifat-sifat tertentu. Pemuliaan ternak dalam mengusahakan ternak sudah menetapkan sifat-sifat yang akan dipertahankan pada ternaknya.
Metode-metode seleksi sifat ganda
1.      Tandem selection
Yang dimaksudkan dengan tandem selection (TS) atau seleksi berurutan adalah seleksi  yang dilakukan untuk memperoleh keunggulan sifat atas dasar pencapaian target seleksi (batas seleksi standard yang harus dipenuhi). Bila target untuk satu sifat sudah tercapai, maka seleksi dilanjutkan terhadap sifat lainnya.
Tahapan seleksi tandem
1.    Seleksi pertama dilakukan untuk sifat yang paling penting
2.    Setelah tujuan untuk sifat pertama telah dicapai, upaya seleksi ditargetkan sifat yang paling penting berikutnya, dan dilakukan untuk jumlah generasi tertentu.
Contoh :
Dalam usaha perbaikan mutu genetic, sering terlihat antara lain misalnya; seorang peternak domba atau biri-biri mengarahkan tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan, tetapi jika suatu saat diperhitungkan harga bulu cenderung akan naik, ia akan memusatkan tujuannya untuk memperbaiki perhatiannya dalam perbaikan produksi bulu domba tersebut. Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa tujuan atausasaran dari seleksi tergantung dari nilai dan situasi ekonomi yang diperhitungkan untuk waktu- waktu mendatang.
Pada pelaksanaannya, metode TS ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Keuntungannya adalah :
-          Tidak begitu banyak membutuhkan ternak untuk keperluan seleksi. Hal ini karena hanya memilih satu sifat saja. Dengan intensitas seleksi relative ketat, maka pemuliaan ternak dapat memperoleh ternak-ternak yang menunjukkan penampilan terbaik sesuai dengan kriteria sifat yang diseleksi.
-          Tidak begitu banyak memerlukan data. Hal ini terkait dengan jumlah ternak yang tidak begitu banyak yang diperlukan untuk proses seleksi dan biaya operasional seleksi.
Sementara itu, kekurangan pada metode TS ini adalah diperlukan waktu yang lebih lama untuk memperoleh aggregate breeding value. Hal ini karena pada satu generasi hanya bisa diperbaiki satu sifat, padahal untuk memenuhi kriteria  seleksi sebagaimana yang ditetapkan  oleh pemulia ternak mungkin saja bisa sampai beberapa generasi.
2.      Independent Culling Level
Metode seleksi independent culling level (ICL) sering disebut sebagai metode penyingkiran bebas bertingkat, yaitu metode seleksi yang diberlakukan terhadap sekelompok ternak berdasarkan atas keunggulan beberapa sifat selama satu masa kehidupan ternak yang diperhitungkan sejak kelahiran sampai dengan kematian. Pada metode ICL ini target seleksi ditentukan untuk setiap sifat.
Metode ICL cukup disukai oleh pemulia ternak karena tingkat kemudahan dalam penggunaannya. Metode ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya. Secara prinsip, kelebihan metode tandem selection menjadi kekurangan metode ICL, yaitu :
-          Untuk memperoleh ternak-ternak unggul yang memenuhi standard beberapa sifat yang diseleksi dibutuhkan jumlah ternak yang relative banyak.
-          Terkait dengan banyaknya ternak yang harus diseleksi, konsekuensinya adalah membutuhkan dana yang banyak pula yaitu pada awal pelaksanaan seleksi
Kelebihan metode ICL adalah memerlukan waktu yang relatife lebih singkat disbanding TS. Sebagaimana metode TS, data-data yang digunakan untuk keperluan seleksi pada ICL harus distandarisasi kebatas tertentu.
3.      Index selection
Metode index selection (IS) atau seleksi indek adalah seleksi yang diberlakukan pada ternak dengan menerapkan indeks terhadap sifat-sifat yang menjadi criteria seleksi. Pendugaan nilai pemuliaan seekor ternak dilakukan dengan menggunakan semua sifat yang dipertimbangkan. Caranya adalah menghitung indeks melalui perkalian pengukuran tiap sifat dengan masing-masing faktor pembobotnya kemudiam dijumlahkan. Suatu indeks dapat ditampilkan sebagai berikut :
      I = biXI+ b2X2+.......+bnXn
Keterangan :
I  = indeks seekor ternak
b = faktor pembobot
X = pengukuran untuk sifat, diekspresikan sebagai selisih dari rataan kelompok
N = jumlah sifat yang diukur.
Seleksi indeks banyak digunakan pada peternakan yang lingkungannya relatif seragam. Untuk keakuratan seleksi ini , parameter genetik seperti nilai heritabilitas, korelasi genetik, dan korelasi fenotif antara sifat harus diketahui. Nilai indeks dapat dibentuk dengan menggunakan rumus :
I=(Pi – P) / P
Ket : I=Nilai Indeks, Pi=Performa ternak, P=Nilai rata-rata. Membuat indeks berdasarkan nilai pemuliaan menggunakan rumus :
NP=h²(Pi – P) Indeks I=h²(Pi-P)Produksi Telur + h²(Pi-P)Berat Telur
Respon Terkorelasi Terhadap Seleksi
Bila diketahui korelasi genetic antar sifat, heritabilitas masing-masing sifat, intensitas seleksi dan simpangan baku fenotipe, maka dapat diduga besarnya perubahan yang menyertai seleksi terhadap salah satu sifat. Respon terkorelasi mungkin disebabkan oleh beberapa mekanisme. Pertama, penyebabnya adalah pautan. Jika dua gen utama yang mempengaruhi dua sifat adalah gen yang terpaut, keduanya seolah-olah seperti satu kesatuan. Akibatnya, bila ada upaya seleksi kearah satu ssifat akan berakibat pada perubahan frekuensi pada sifat yang lain. Dampak pautan ini bersifat sementara, karena ada kemungkinan terjadinya kombinasi baru pada saat pembentukan individu baru.
Kedua, adanya pengaruh gen pleiotropik. Pada prinsipnya yang dimaksudkan dengan gen pleiotropik adalah salah satu gen yang mempengaruhi lebih dari satu sifat. Contoh adanya pengaruh gen pleiotropik adalah sifat pertumbuhan mulai dari lahir sampai dewasa.
Contoh perhitungan respon terkorelasi
Diketahui data-data sebagai berikut :
·         Bobot lahir seekor pedet 38,4 kg dan rataan bobot lahir kelompoknya = 34,7 kg
·         Simpangan baku bobot lahir = 3,8 kg
·         Simpangan baku bobot sapih = 16,6 kg
·         Korelasi genetic antara bobot lahir dengan bobot sapih = 0,60
·         Korelasi genetik antara bobot lahir dengan bobot sapih = 0,60
·         Heritabilitas bobot lahir dan bobot sapih masing-masing 0,4 dan 0,3
NP sifat ke-2 adalah EBV2= (0,60) (0,63) (0,55) {(3,7) (3,8)} (16,6) =3,4 Kg
Artinya bahwa dengan bobot lahirnya, pedet tersebut mempunyai NP bobot sapih 3,4 kg diatas rataan kelompok.
















BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang disukai yang akan dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya.Tujuan umum dari seleksi adalah untuk meningkatkan produktifitas ternak melalui perbaikan mutu genetic bibit.Seleksi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan mutu genetik ternak. Seleksi untuk memilih ternak didasarkan atas empat sumber informasi, yaitu 1) dirinya sendiri, 2) keturunannya, 3)silsilah moyangnya, dan 4) saudaranya. Seleksi  terhadap satu sifat relative lebih sederhana dibandingkan dengan seleksi terhadap banyak sifat. Di dalam seleksi ada beberapa metode yang harus dilakukan, yaitu : Tandem selection, Independent Culling Level, dan Index selection.
3.2.Saran
Seleksi ternak penting diketahui oleh peternak karena dengan seleksi kita dapat memilih ternak yang sesuai untuk meningkatkan produktivitas teknak melalui perbaikan mutu genetik bibit.













DAFTAR PUSTAKA
Noor Rahman. R, 2004. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pane Ismed, 1986. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia. Jakarta.
Warwick, E. J. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.