Pedalaman
Sumatera Barat mengukir banyak tawa anak-anak pesisir, gelak tawa bebas,
sekawanan layang-layang, Ibu-ibu pecinta sungai khususnya dentaman ombak yang
ritmenya berganti-ganti. Ada mimpi terpendam wajah anak-anak yang bisa di lihat walau tertutup tawa. Kurang
lebih lima tahun tidak ke rumah Mamak, masih terdengar detail setiap marah,
canda, dan diam mamak yang menemani mimpi hingga bisa seperti ini.
Lampu
“Togok” kala itu yang selalu menemani ku untuk belajar, mengaji, dan penerangan
rumah. Jauh sekali dari kebiasaan masa kini, aku benar-benar menikmati masa
anak-anak tanpa gadget, tanpa IPTEK yang
canggih, tapi itu lebih indah dan ku harap masa anak-anak selalu seperti itu,
sesederhana itu.
“
Wen, belajar yang rajin biar besok bisa mengisi Ujian Nasional (UN) nya dengan
benar dan dapat nilai terbaik “ ujar Mamak memotivasi
“tentu
Mak, aku ingin memperbaiki kehidupan
kita, memutus rantai kemiskinan, aku janji mak akan menjadi anak pertama yang
menjadi contoh dan panutan bagi kelima adik ku mak” jawabku
“
Mamak yakin sekali kamu bisa, Nak. Satu hal yang ingin Mamak tekankan bahwa
tetaplah rendah hati setinggi apapun ilmu kita sebab dengan sifat itulah yang
mengantarkan kita pada ilmu yang baik”
Pembicaraan
terhenti dengan banyaknya perenungan ku akan kata Mamak. Mamak benar, tanpa
rendah hati kita tidak bisa memiliki ilmu yang baik sebab hati dan ilmu ada
keseimbangan.
28 mei 1994 tepat jam
09:00 wib ujian di mulai.
Kami bergegas duduk
di kursi yang sudah diberi nomor sesuai dengan nomor yang kami dapat. 006101
semoga kamu bersahabat untuk mengukir banyak mimpi untuk Mamak, Ayah, dan Adik-adik
ku. Kertas LJK yang dibagikan pengawas
ujian akhirnya di edarkan bersamaan dengan soal UN. Ah.. hatiku masih saja
berdetak sama halnya dengan UN waktu SD dan SMP, tapi kali ini ada yang beda
suara detak nya lebih meyakinkan bahwa aku bisa meraih nilai UN terbaik dan
mendapat beasiswa lanjut kuliah ujar ku saat pensil 2b ku putar-putar.
Berakhir tepat dua
jam berikut nya ujian telah selesai di lakukan dan ini terjadi untuk dua hari
berikutnya. Semua adalah tentang doa, usaha, ikhtiar dan tawakkal yang selalu
ayah ajarkan pada kami. Jujur, aku jarang atau bahkan bisa di hitung betapa aku
selalu menyembunyikan rasa kagum ku kepada sosok Ayah yang selalu mendukung
pendidikan kami. Dia adalah sosok pekerja keras, pendidik yang hebat, dan
pastinya sosok yang tegas jika memang kami salah.
“ Uda, boleh kami
nonton televisi ke tetangga sebelah, Da? “ ujar Aan (Adik laki-laki ku).
Aku selalu
mengajarkan kelima adik ku untuk tidak sering menonton televisi sebab apa yang
di tayangkan itu hanya imajinasi sutradara sekehendaknya saja. Mereka selalu
takut jika ketahuan nonton televisi tanpa sepengetahuan ku.
“ iya, kalian boleh
nonton televisi hanya untuk malam ini sebab besok hari libur, besok-besok tidak
boleh lagi” jawabku
Aku melihat wajah
bahagia mereka, ternyata benar kata pepatah bahagia itu sederhana bahkan hanya
dengan diizinkan nonton televisi sudah membuat mereka bahagia. Hatiku berbisik,
diak, percayalah suatu saat nanti uda akan merubah perekonomian kita, uda akan
mencapai mimpi uda kuliah di pulau jawa, akan jadi anak pertama yang terbaik.
Ah lagi-lagi aku menyembunyikan mata berkaca ku diantara lampu-lampu “Togok”.
Hari kelulusan Ujian
Nasional (UN), aku sudah tawakkal untuk hasilnya apapun itu aku harus siap dan
siap melanjutkan hidup berikutnya dengan segudang mimpi yang telah ku rencana
kan selepas masa SMA ini. Kebetulan, hari kelulusan ini juga mengikutserta kan
orangtua murid dan ini menjadi salah satu momentum pertama ayah hadir di hari
kelulusan ku. Aku melihat betapa Ayah juga penasaran dan gugup tentang hasilnya
meskipun beliau menyembunyikan dengan tetap merasa baik-baik saja.
Assalamualaikum
warrahmatullahi wabarakatu
Rasa
hormat kepada oangtua murid khususnya (mengawali pidato kelulusan yang
disampaikan kepala sekolah kami) maka sampailah pada klimaks yang
ditunggu-tunggu dari tadi. Alhamdulillah ada dua orang murid kita dengan nilai
kelulusan terbaik dan berkesempatan mendapat beasiswa kuliah di salah satu
universitas pulau Jawa. Selamat Wendra Rovikto dan Jamatul Riyaldi atas
prestasi terbaiknya, sekolah bangga kepada kalian.
Aku benar-benar
terkejut betapa skenario-Nya benar-benar indah. Terjawab sudah mimpi itu, aku
berjanji mulai detik ini aku tidak akan pernah takut bermimpi aku meyakini
bahwa setiap usaha dan doa yang kita tenggadahkan kelangit akan mencapai titik
temu, jika tidak sekarang maka besok nya lagi. Aku melihat wajah bahagia, haru
dan mata bangga ayah yang aku harus menyembunyi kan lagi betapa aku juga
seperti itu tapi aku tidak boleh menangis, aku anak pertama dan harus kuat.
“Alhamdulillah anak Mamak
lulus dengan nilai terbaik, Ayah mu bangga wen ketika tampil di depan karena prestasimu”
ujar ibu
“yah.. berarti Uda
pergi marantau ke pulau jawa, tidak ada lagi yang ngajarin fi belajar
matematika” ujar adek ku paling bungsu.
“ Nanti uda aja yang
ngajarin fi, biarkan Uda wen mengejar mimpi nya biar kita bisa makan enak” ujar
Aan.
Hati
ku seolah berkata lirih, bahwa mereka sudah tumbuh hebat saling melengkapi dan
betapa mereka akan melanjutkan mimpi nya juga menjadi lebih baik dari Uda nya
ini.
Allah,
aku lebih siap untuk menahan rindu
untuk
sebuah bahagia sederhana,
untuk
mimpi yang akan memutus rantai kemiskinan keluarga kita
untuk
syurga yang kita semogakan perjumpaan nya
Aku berangkat dengan
menggunakan bus pejalanan 2 hari 2 malam menuju pulau jawa , kota Bandung. Aku
mengambil beasiswa itu di Sekolah Tinggi Perguruan Dalam Negeri (STPDN) yang
sekarang namanya menjadi IPDN. Kami di beri tempat tinggal di asrama gedung 3
tingkat dari berbagai daerah yang aku harus banyak bersosialisasi.
Komuniasi
ku dengan mamak, ayah dan adik-adik lewat surat yang ku kirim sekali dalam sebulan.
Banyak hal yang ku curahkan mulai dari kuliah ku teman-teman ku hingga sampai
pada kejadian bahwa aku menyembunyikan tekanan fisik yang dialami Mahasiswa di
sana. Keluarga ku mengetahui hal tersebut dari televisi, sehingga ketika aku
pulang kampung sekali setahun aku sering di urut ayah dan itu moment yang tak
pernah ku lupakan.
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu
Mamak, Ayah, dan Adik-adik tercinta Uda. Semoga kalian dalam keadaan sehat dan
selalu tetap belajar yang rajin buat adik-adik Uda. Alhamdulillah wen telah
menyelesaikan ujian akhir semester dan nilai nya sudah keluar dengan nilai yang
baik. Semoga ayah, mamak, dan adik-adik selalu mendoakan wen agar bisa tamat
secepatnya dengan nilai terbaik. Banyak hal yang iwen lalui di sini mulai dari
teman-teman, dosen hingga ibuk asrama yang sejatinya membuat Iwen lebih banyak
belajar. Sebenarnya Iwen lagi butuh uang untuk membayar uang untuk salah satu
kegiatan mahasiswa tingkat akhir dan uang nya tidak sedikit sebanyak 2 juta.
Semoga mamak dan ayah selalu di limpahkan rezeki oleh Allah. Salam rindu dari
anak marantau yang di besarkan di pedalaman pesisir makan lauk.
Wassalam...
Ayah bekerja sangat
keras pada saat itu untuk mendapatkan uang 2 juta tersebut. Betapa tidak,
informasi itu disembunyikan beberapa hari oleh Mamak, Ayah, dan Adik-adik ku
bahwa Ayah melakoni banyak pekerjaan yang sebelumnya Ayah hanya bekerja
menjahit. Ayah melakoni mulai dari
bekerja jadi tukang ojek, menjahit sampai beliau bekerja di laut sebagai tukang
pengambil pasir. Aku mengetahui info ini dari balasan surat ku setelah uang 2 juta
telah di kirim Mamak dan Ayah. Dalam sebuah tulisan yang sampai hari ini masih
ku ingat betapa aku pernah sebijak ini menulis surat berisikan “ Ayah, Mamak,
maafkan aku yang bahkan untuk kuliah masih merepotkanmu. Aku janji akan tumbuh
menjadi anak yang kuat dan membanggakan kalian”.
Seseorang
menepuk bahu ku menghentikan lamunan ku
Sudah
lama tidak bertemu Bapak Bupati Negeri Sejuta Ombak?! “seru rizki teman satu
angkatanku waktu kuliah”
Wah kamu baru saja menghentikan lamunan ku
atas masa-masa sulit kuliah ku dulu “ujar ku”
Akhirnya
kamu ke Bandung juga ya sekian lama semenjak jadi Bupati di Surabaya.
Kami
di pertemukan dalam sebuah acara reuni angkatan. Kali ini aku menyempatkan
hadir karena aku ingin mengenang
semuanya. Dengan kenangan kita akan sadar ternyata kita bukan siapa-siapa.
Dengan kenangan kita mengerti bahwa
rendah hati, semangat, dan restu orang tua adalah jalan sukses.
Aku
selalu berjanji aku akan jadi anak pertama yang membanggakan. Lihatlah hari
ini, aku tumbuh menjadi anak yang hebat
Mak, Yah. Terima kasih karena sudah memperjuangkan mimpiku dan mimpi kita
bersama. Benarlah ungkapan itu bahwa pendidikan dapat memutus rantai
kemiskinan.
Mimpiku
terwujud menjadi Bupati kini terwujud, selanjutnya aku ingin pulang kampung
untuk mendedikasikan diri ini untuk kemajuan kampung halaman, Negeri Suta
Ombak, pedalam Sumatera Barat. Hidup
dari keluarga tukang jahit baju, tukang ojek dan tukang pengambil pasir di
laut. Aku bersyukur bisa hidup dan besar dalam keluarga sederhana namun, selalu
mendukung mimpi dan keputusan ku. Mak, terima kasih karena selalu sabar dan
tegar dalam mendidik ku. Ayah, terima kasih karena aku banyak belajar berani
dari Ayah, banyak belajar arti kuat dan arti bermimpi.
Sukses adalah tentang WAKTU
Sukses memiliki versi tersendiri
Percayalah setiap rangkaian hidup
yang kita perjuangkan
dengan doa dan usaha
Tidak akan tertukar hasilnya
dengan orang lain
Kita hanya butuh sabar untuk
kabar baik
Allah tau WAKTU yang tepat
mengabulkan doa hamba-Nya
Selamat bermimpi para penakhluk
WAKTU
28
September 2001
Ulang
Tahun Adik Bungsu Uda
Refi
Sartika