Sabtu, 06 Oktober 2018

RINDU ITU PUNYA NAMA : NEGERI SEJUTA OMBAK


            Pedalaman Sumatera Barat mengukir banyak tawa anak-anak pesisir, gelak tawa bebas, sekawanan layang-layang, Ibu-ibu pecinta sungai khususnya dentaman ombak yang ritmenya berganti-ganti. Ada mimpi terpendam wajah anak-anak  yang bisa di lihat walau tertutup tawa. Kurang lebih lima tahun tidak ke rumah Mamak, masih terdengar detail setiap marah, canda, dan diam mamak yang menemani mimpi hingga bisa seperti ini.
            Lampu “Togok” kala itu yang selalu menemani ku untuk belajar, mengaji, dan penerangan rumah. Jauh sekali dari kebiasaan masa kini, aku benar-benar menikmati masa anak-anak tanpa gadget, tanpa  IPTEK yang canggih, tapi itu lebih indah dan ku harap masa anak-anak selalu seperti itu, sesederhana itu.
            “ Wen, belajar yang rajin biar besok bisa mengisi Ujian Nasional (UN) nya dengan benar dan dapat nilai terbaik “ ujar Mamak memotivasi
            “tentu Mak, aku  ingin memperbaiki kehidupan kita, memutus rantai kemiskinan, aku janji mak akan menjadi anak pertama yang menjadi contoh dan panutan bagi kelima adik ku mak” jawabku
            “ Mamak yakin sekali kamu bisa, Nak. Satu hal yang ingin Mamak tekankan bahwa tetaplah rendah hati setinggi apapun ilmu kita sebab dengan sifat itulah yang mengantarkan kita pada ilmu yang baik”
            Pembicaraan terhenti dengan banyaknya perenungan ku akan kata Mamak. Mamak benar, tanpa rendah hati kita tidak bisa memiliki ilmu yang baik sebab hati dan ilmu ada keseimbangan.
28 mei 1994 tepat jam 09:00 wib ujian di mulai.
Kami bergegas duduk di kursi yang sudah diberi nomor sesuai dengan nomor yang kami dapat. 006101 semoga kamu bersahabat untuk mengukir banyak mimpi untuk Mamak, Ayah, dan Adik-adik ku.  Kertas LJK yang dibagikan pengawas ujian akhirnya di edarkan bersamaan dengan soal UN. Ah.. hatiku masih saja berdetak sama halnya dengan UN waktu SD dan SMP, tapi kali ini ada yang beda suara detak nya lebih meyakinkan bahwa aku bisa meraih nilai UN terbaik dan mendapat beasiswa lanjut kuliah ujar ku saat pensil 2b ku putar-putar.
Berakhir tepat dua jam berikut nya ujian telah selesai di lakukan dan ini terjadi untuk dua hari berikutnya. Semua adalah tentang doa, usaha, ikhtiar dan tawakkal yang selalu ayah ajarkan pada kami. Jujur, aku jarang atau bahkan bisa di hitung betapa aku selalu menyembunyikan rasa kagum ku kepada sosok Ayah yang selalu mendukung pendidikan kami. Dia adalah sosok pekerja keras, pendidik yang hebat, dan pastinya sosok yang tegas jika memang kami salah.
“ Uda, boleh kami nonton televisi ke tetangga sebelah, Da? “ ujar Aan (Adik laki-laki ku).
Aku selalu mengajarkan kelima adik ku untuk tidak sering menonton televisi sebab apa yang di tayangkan itu hanya imajinasi sutradara sekehendaknya saja. Mereka selalu takut jika ketahuan nonton televisi tanpa sepengetahuan ku.
“ iya, kalian boleh nonton televisi hanya untuk malam ini sebab besok hari libur, besok-besok tidak boleh lagi” jawabku
Aku melihat wajah bahagia mereka, ternyata benar kata pepatah bahagia itu sederhana bahkan hanya dengan diizinkan nonton televisi sudah membuat mereka bahagia. Hatiku berbisik, diak, percayalah suatu saat nanti uda akan merubah perekonomian kita, uda akan mencapai mimpi uda kuliah di pulau jawa, akan jadi anak pertama yang terbaik. Ah lagi-lagi aku menyembunyikan mata berkaca ku diantara lampu-lampu “Togok”.
Hari kelulusan Ujian Nasional (UN), aku sudah tawakkal untuk hasilnya apapun itu aku harus siap dan siap melanjutkan hidup berikutnya dengan segudang mimpi yang telah ku rencana kan selepas masa SMA ini. Kebetulan, hari kelulusan ini juga mengikutserta kan orangtua murid dan ini menjadi salah satu momentum pertama ayah hadir di hari kelulusan ku. Aku melihat betapa Ayah juga penasaran dan gugup tentang hasilnya meskipun beliau menyembunyikan dengan tetap merasa baik-baik saja.
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu
Rasa hormat kepada oangtua murid khususnya (mengawali pidato kelulusan yang disampaikan kepala sekolah kami) maka sampailah pada klimaks yang ditunggu-tunggu dari tadi. Alhamdulillah ada dua orang murid kita dengan nilai kelulusan terbaik dan berkesempatan mendapat beasiswa kuliah di salah satu universitas pulau Jawa. Selamat Wendra Rovikto dan Jamatul Riyaldi atas prestasi terbaiknya, sekolah bangga kepada kalian.
Aku benar-benar terkejut betapa skenario-Nya benar-benar indah. Terjawab sudah mimpi itu, aku berjanji mulai detik ini aku tidak akan pernah takut bermimpi aku meyakini bahwa setiap usaha dan doa yang kita tenggadahkan kelangit akan mencapai titik temu, jika tidak sekarang maka besok nya lagi. Aku melihat wajah bahagia, haru dan mata bangga ayah yang aku harus menyembunyi kan lagi betapa aku juga seperti itu tapi aku tidak boleh menangis, aku anak pertama dan harus kuat.
“Alhamdulillah anak Mamak lulus dengan nilai terbaik, Ayah mu bangga wen ketika tampil di depan karena prestasimu” ujar ibu
“yah.. berarti Uda pergi marantau ke pulau jawa, tidak ada lagi yang ngajarin fi belajar matematika” ujar adek ku paling bungsu.
“ Nanti uda aja yang ngajarin fi, biarkan Uda wen mengejar mimpi nya biar kita bisa makan enak” ujar Aan.
            Hati ku seolah berkata lirih, bahwa mereka sudah tumbuh hebat saling melengkapi dan betapa mereka akan melanjutkan mimpi nya juga menjadi lebih baik dari Uda nya ini.

Allah, aku lebih siap untuk menahan rindu
untuk sebuah bahagia sederhana,
untuk mimpi yang akan memutus rantai kemiskinan keluarga kita
untuk syurga yang kita semogakan perjumpaan nya
           
Aku berangkat dengan menggunakan bus pejalanan 2 hari 2 malam menuju pulau jawa , kota Bandung. Aku mengambil beasiswa itu di Sekolah Tinggi Perguruan Dalam Negeri (STPDN) yang sekarang namanya menjadi IPDN. Kami di beri tempat tinggal di asrama gedung 3 tingkat dari berbagai daerah yang aku harus banyak bersosialisasi.
            Komuniasi ku dengan mamak, ayah dan adik-adik lewat surat yang ku kirim sekali dalam sebulan. Banyak hal yang ku curahkan mulai dari kuliah ku teman-teman ku hingga sampai pada kejadian bahwa aku menyembunyikan tekanan fisik yang dialami Mahasiswa di sana. Keluarga ku mengetahui hal tersebut dari televisi, sehingga ketika aku pulang kampung sekali setahun aku sering di urut ayah dan itu moment yang tak pernah ku lupakan.

            Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu Mamak, Ayah, dan Adik-adik tercinta Uda. Semoga kalian dalam keadaan sehat dan selalu tetap belajar yang rajin buat adik-adik Uda. Alhamdulillah wen telah menyelesaikan ujian akhir semester dan nilai nya sudah keluar dengan nilai yang baik. Semoga ayah, mamak, dan adik-adik selalu mendoakan wen agar bisa tamat secepatnya dengan nilai terbaik. Banyak hal yang iwen lalui di sini mulai dari teman-teman, dosen hingga ibuk asrama yang sejatinya membuat Iwen lebih banyak belajar. Sebenarnya Iwen lagi butuh uang untuk membayar uang untuk salah satu kegiatan mahasiswa tingkat akhir dan uang nya tidak sedikit sebanyak 2 juta. Semoga mamak dan ayah selalu di limpahkan rezeki oleh Allah. Salam rindu dari anak marantau yang di besarkan di pedalaman pesisir makan lauk.
            Wassalam...
           
Ayah bekerja sangat keras pada saat itu untuk mendapatkan uang 2 juta tersebut. Betapa tidak, informasi itu disembunyikan beberapa hari oleh Mamak, Ayah, dan Adik-adik ku bahwa Ayah melakoni banyak pekerjaan yang sebelumnya Ayah hanya bekerja menjahit. Ayah  melakoni mulai dari bekerja jadi tukang ojek, menjahit sampai beliau bekerja di laut sebagai tukang pengambil pasir. Aku mengetahui info ini dari balasan surat ku setelah uang  2  juta telah di kirim Mamak dan Ayah. Dalam sebuah tulisan yang sampai hari ini masih ku ingat betapa aku pernah sebijak ini menulis surat berisikan “ Ayah, Mamak, maafkan aku yang bahkan untuk kuliah masih merepotkanmu. Aku janji akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan membanggakan kalian”.
            Seseorang menepuk bahu ku menghentikan lamunan ku
            Sudah lama tidak bertemu Bapak Bupati Negeri Sejuta Ombak?! “seru rizki teman satu angkatanku waktu kuliah”
             Wah kamu baru saja menghentikan lamunan ku atas masa-masa sulit kuliah ku dulu “ujar ku”
            Akhirnya kamu ke Bandung juga ya sekian lama semenjak jadi Bupati di Surabaya.
            Kami di pertemukan dalam sebuah acara reuni angkatan. Kali ini aku menyempatkan hadir karena aku  ingin mengenang semuanya. Dengan kenangan kita akan sadar ternyata kita bukan siapa-siapa. Dengan  kenangan kita mengerti bahwa rendah hati, semangat, dan restu orang tua adalah jalan sukses.
            Aku selalu berjanji aku akan jadi anak pertama yang membanggakan. Lihatlah hari ini, aku tumbuh  menjadi anak yang hebat Mak, Yah. Terima kasih karena sudah memperjuangkan mimpiku dan mimpi kita bersama. Benarlah ungkapan itu bahwa pendidikan dapat memutus rantai kemiskinan.
            Mimpiku terwujud menjadi Bupati kini terwujud, selanjutnya aku ingin pulang kampung untuk mendedikasikan diri ini untuk kemajuan kampung halaman, Negeri Suta Ombak, pedalam  Sumatera Barat. Hidup dari keluarga tukang jahit baju, tukang ojek dan tukang pengambil pasir di laut. Aku bersyukur bisa hidup dan besar dalam keluarga sederhana namun, selalu mendukung mimpi dan keputusan ku. Mak, terima kasih karena selalu sabar dan tegar dalam mendidik ku. Ayah, terima kasih karena aku banyak belajar berani dari Ayah, banyak belajar arti kuat dan arti bermimpi.

Sukses adalah tentang WAKTU
Sukses memiliki versi tersendiri
Percayalah setiap rangkaian hidup yang kita perjuangkan
dengan doa dan usaha
Tidak akan tertukar hasilnya dengan orang lain
Kita hanya butuh sabar untuk kabar baik
Allah tau WAKTU yang tepat mengabulkan doa hamba-Nya
Selamat bermimpi para penakhluk WAKTU

28 September 2001
Ulang Tahun Adik Bungsu Uda

Refi Sartika

Bersabar, Allah tau masa depan sementara kita tak pandai membaca masa depan


            "kenapa kamu menangis, dil" tanya mama
Aku menyembunyikan muka di balik bantal yang ku pegang erat-erat.
" Aku ngak lulus ma tes D3 IPB ma" (dengan suara terpatah-patah dan isak tangis).
"Aduh pakai nangis pula anak mama ini cuma karena tidak lulus? Itu berarti Allah sedang merencanakan yang lebih baik untukmu, nak. Sudah, jangan nangis lagi masih ada universitas lain yang menunggu mu" suara mama meyakinkanku
Institut pertanian bogor merupakan cita-cita ku untuk bisa kuliah di sana, menimba ilmu, dan menggapai semua mimpi-mimpi yang telah ku rancang dari masuk SMA.
"Aku harus bangkit, tidak boleh menangis lagi. Masih ada jalur SBMPTN untuk bisa lulus di IPB" (sela ku dalam hati).
Aku memutuskan untuk mengikuti bimbel untuk mengisi waktu ku selama sebulan libur dan sekaligus belajar ekstra untuk mempersiapkan ujian SBMPTN agar aku lulus di universitas yang ku impikan, IPB. Singkat cerita akhir dari perjalanan menemukan IPB harus berakhir, IPB bukan yang Allah inginkan.
Dil, gimana hasil SBMPTN mu, luluskan di IPB? secara kan kamu sudah ikut bimbel mati-matian "ujar SMS yang di layangkan hani di ponsel ku"
Mau gimana lagi han, IPB belum di takdirkan berjodoh dengan ku. Aku lulus di salah satu universitas ternama di Sumatera Barat, jurusan yang tidak pernah terlintas di benak ku. "balasku"
Aku di terima di kampus hijau salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama di pulau Sumatera. Alhamdulillah, namun terkait jurusannya aku tidak tau kenapa harus di sana, itu sama dengan jurusan pelarian untuk bisa di katakan orang-orang aku kuliah. Cuma sekedar itu. Hari-hari ku lalui dengan kurang semangat tersebab ini bukan jurusan favorit ku. Yang terpikir di benak ku aku bisa mendapat nilai terbaik tanpa harus giat belajar karena jurusan ini terlalu mudah ku taklukkan (Astagfirullah begitu sombong dan angkuhnya aku)

"Dek, nama kamu dila kan" sela seseorang yang sudah berdiri di depan ku sedari tadi
"eh.. Iya kak, ada apa kak?"
"Gini, Dila udah tau kan kelompok mentoringnya?"
"oh berarti ini kak rahma delfita?"
"iya dek, besok loh agenda nya jam 13:15 wib di mushalla fakultas kita"
"sip kakak, nanti dila hadir insyaAllah"
"udah ya, kakak juga ada kuliah lagi sampai ketemu besok"
"sip kak, semangat kak"
Bermula dari lingkaran itulah aku mengenal jati diriku yang mulanya hanya sesosok anak SMA alay yang gaya nya ah kalau di ingat-ingat serba alay lah pokoknya, mulai dari ucapan, pakaian sampai pola hidup. Aku bersyukur Allah mempertemukan ku dengan orang-orang yang selalu berusaha memperbaiki diri. Singkat kata aku mulai belajar hijrah.
Sepintas mulai ku telaah setiap yang Allah sodor kan rencana-Nya untukku, ah nyatanya aku orang yang paling tidak sabaran dalam meminta. Ternyata memang, Allah memberikan aku lulus di Fakultas dan Universitas ini bukan untuk dunia, tapi untuk jalan keterbaikan Akhirat ku. Terpikir suatu kesimpulan bahwa ketika kita punya rencana dan Allah punya rencana juga maka solusinya masukkan rencana kita dalam rencana Allah.
Setahun kemudian....
Aku di nyatakan lulus diantara 25 orang dalam program Exchange Creadit Earning, dan aku lulus di Institut Pertanian Bogor (IPB). Seakan-akan menyelami mimpi lama yang terkabulnya dua tahun berikutnya. Alhamdulillah..
Lapis-lapis keberkahan
Menyelami dalam proses sabar dan penuh tawakkal
Ku yakini saat ku tahu dan menenangkan
Bahwa apa yang melewatkanku tidak akan menjadi milikku
Dan apa yang menjadi milikku tidak akan pernah melewatkan ku
Allah tau masa depan
Sementara kita tak pandai membaca masa depan
Selamat menuai dari sabar bermimpi wahai manusia.