LAPORAN PRAKTIKUM
Mata kuliah : Teknologi Penanganan dan Dosen
: M. Sriduresta S, S.Pt, MSc
Pengolahan Hasil
Ikutan Ternak Asisten :
Hari/tanggal : Rabu/24 Februari 2016 1. Ahmat Budiyono
D14120001
Tempat : Lab. Hasil Ikutan Ternak 2. Kiki Rizqi Januar
D14120027
Kelompok/grup:
6/G2 3. Yeyen Ariska D14120068
Praktikum
ke- : 3
PEMANFAATAN TALLOW UNTUK PEMBUATAN
SABUN
Refi Sartika
D04155010

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN
TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sabun merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang selalu
digunakan sehari-hari. Fungsi utamanya adalah membersihkan lingkungan sekitar.
Banyak macam wujud sabun yang dapat ditemui baik yang dalam bentuk cair, krim,
lunak, maupun yang padat. Kegunaannya pun beragam, ada yang sebagai sabun
mandi, sabun cuci tangan, sabun cuci peralatan rumah tangga dan lain
sebagainya.
Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow)
dan dari minyak nabati. Gugus induk lemak disebut fatty acid yang terdiri dari
rantai hidrokarbon panjang (C12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus
karboksil. Sabun termasuk salah satu surfaktan yang terbuat dari lemak atau
minyak alami. Surfaktan memiliki gugus bipolar. Bagian kepala bersifat
hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidropobik. Karena sifat inilah sabun mampu
mengangkat kotoran dari badan dan pakaian. Oleh karena itu dilakukan percobaan
pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat sabun, sehingga akan didapat
sabun yang berkualitas.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan mempelajari
pembuatan sabun dan pengemasannya.
TINJAUAN PUSTAKA
Sabun
Catatan pertama tentang sabun
berasal dari sumeri, bangsa semit, 4500 tahun yang lalu yang menggunakan lemak
tumbuhan dan bubuk kayu sebagai pembersih kulit dan baju. Kotoran yang
dikeluarkan menggunakan surfaktan yang dapat mengangkat kotoran dan mengikat
lemak (Ananthapadamanabhan 2004).
Sabun adalah surfaktan yang terdiri
dari gabungan antara air sebagai pencuci dan pembersih yang terdapat pada sabun
batang dan dalam bentuk sabun cair. Secara kimia sabun adalah garam dari asam
lemak. Reaksi kimia pada pembuatan sabun dengan hal ini dikenal dengan
saponifikasi (Engko 2008).
Saponifikasi
Saponifikasi adalah reaksi
hidrolisis antara basa-basa alkali dengan asam lemak yang akan dihasilkan
gliserol dan garam yang disebut sebagai sabun. Asam lemak yang digunakan yaitu
asam lemak tak jenuh karena memiliki paling sedikit satu ikatan ganda antara
atom-atom karbon penyusunnya yang bersifat kurang stabil sehingga mudah
bereaksi dengan unsur lain. Basa alkali yang digunakan yaitu basa-basa yang
menghasilkan garam basa lemah seperti NaOH, KOH, NH4OH, K2CO3
dan lainnya (Kamikaze 2002).
NaOH
NaOH merupakan salah satu jenis
alkali (basa) kuat yang bersifat korosif serta mudah menghancurkan jaringan
organik yang halus. NaOH berbentuk butiran padat berwarna putih dan memiliki
sifat higroskopis (Wade dan Waller 1994).
Natrium hidroksida merupakan salah
satu basa kuat yang bersifat korosif serta mudah menghancurkan jaringan organik
yang halus. Banyak nya alkali yang akan digunakan dalam pembuatan sabun
transparan dapat ditentukan dengan melihat besarnya bilangan penyabunan
(Departemen Perindustrian 1984).
KOH
Kalium hidroksida (KOH) berupa
kristak padat berwarna putih. Penambahan KOH dalam pembuatan sabun harus tepat,
karena apabila terlalu banyak dapat memberikan pengaruh negatif yaitu iritasi
kulit. Sedangkan bila terlalu sedikit maka sabun yang dihasilkan akan
mengandung asam lemak bebas tinggi yang menganggu proses emulsi sabun dan
kotoran (Perry 1997).
Minyak Kelapa
Kekhasan minyak kelapa murni
terletak pada kandungan asam lemaknya yang sebagian besar yang terdiri dari
asam lemak rantai sedang. Minyak kelapa merupakan salah satu jenis minyak
nabati dengan kemampuan tersendiri yang cukup penting dalam proses pembuatan
sabun. Asam laurat merupakan asam lemak dominan yang terdapat dalam minyak
kelapa yaitu sebesar 48,2 % dan berperan dalam pembuatan sabun dan pembusaan.
Titik cair asam laurat adalah pada suhu 44oC (Ketaren 1986).
Minyak Sawit
Tanaman sawit adalah tanaman
berkeping satu yang termasuk dalam famili palmae. Buah sawit yang terdapat
dalam tandan akan menjadi matang setelah berumur 20-21 minggu setelah
penyerbukan bunga. Setelah mengalami beberapa tahap pertumbuhan, didalam
jaringan buah akan terjadi proses sintesa lemak yang tersimpan dalam
butir-butir globula lemak yang terdapat dalam sitoplasma sel mesokarp
(Radjanaidu 1989).
METODE
Alat
Praktikum pemanfaatan tallow untuk
pembuatan sabun didukung dengan alat-alat yang dapat membantu menunjang
terlaksananya praktikum ini. Oleh karena itu, sebelum dilakukannya praktikum
ini, praktikan harus menyediakan alat-alatnya yang meliputi timbangan, pH
meter, pengaduk kayu, kantong plastik, termometer, erlenmeyer, panci stainless
steel, sarung tangan, masker, cetakan, dan plastik wrap.
Bahan
Selain alat-alat yang diperlukan,
bahan-bahan atau sampel juga sama pentingnya. Dalam praktikum ini, bahan-bahan
yang harus disiapkan oleh praktikan yaitu tallow (lemak sapi), minyak sawit,
kristal NaOH atau KOH, dan aquades.
Prosedur
Pembuatan sabun dari tallow ini
memiliki prosedur yaitu tallow dicairkan diatas kompor dengan api kecil. Lalu,
disaring dan dipindahkan ke wadah lain. Tallow yang dicairkan tadi dicampur
dengan kelapa sawit kemudian diaduk terus hingga suhu nya 35oC.
Selain itu, dalam hal ini juga dilakukan campuran aquades dengan KOH kristal
dan diaduk hingga larutan bening. Setelah itu, campuran ini didiamkan hingga
suhu 35oC. Dengan demikian, tallow yang dicampurkan dengan minyak
kelapa sawit dan campuran KOH dengan aquades didalam satu wadah. Selanjutnya
diaduk terus hingga campuran tersebut mengental seperti adonan pencake. Setelah
itu, dicetak dan ditutup cetakan itu dengan plastik wrap. Lalu, disimpan di
udara dingin atau sejuk hingga 24 jam. Keluarkan dari cetakan, dipotong sesuai
ukuran serta disimpan selama 3-4 minggu. Terakhir aging 3-4 minggu, sabun bisa
digunakan untuk pembersih tubuh.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Saponifikasi adalah reaksi
hidrolisis antara basa-bsa alkali dengan asam lemak yang akan dihasilkan
gliserol dan garam yang disebut dengan sabun. Dalam hal ini dilakukan pengujian
terhadap sabun yang telah jadi. Pengujian tersebut, meliputi pH awal dan Ph
akhir sabun serta iritasinya. Adapun hasil dari masing-masing kelompok meliputi
antara lain :
Tabel 1. Pengujian Sabun
|
Kelompok
|
Kadar pH
|
Daya
Buih
|
Iritasi
|
|
Awal Akhir
|
|||
|
1
2
3
4
5
6
|
14 8
13 10
12 7
14 9
13 10
14 9
|
++
+
++
+
+
+
|
+
+
+
+
+
+
|
Keterangan :
(1) : (+) sedikit ; (++) banyak ; (+++)
sangat banyak
(2) : (+) tidak gatal ; (-) gatal
Pembahasan
Proses saponifikasi yang dilakukan
dalam praktikum ini yaitu campuran tallow + minyak dengan NaOH atau KOH + air.
Untuk tallow dan minyak prbandingan yang diberikan yaitu 80 : 20 dan NaOH atau
KOH dengan air diberi perbandingan 1 : 3. Masing-masing kelompok mendapatkan
perlakuan yang berbeda-beda. Untuk NaOH hasilnya yaitu sabun padat sementara
untuk KOH hasilnya sabun lunak. Natrium Hidroksida yang dicampur dengan pewarna
membuat campurannya sama dengan warna yang diberikan sementara KOH sebaliknya.
Jika dilihat dari daya busa dipengaruhi oleh jenis minyak yang digunakan dan
lama proses aging yang dilakukan, sehingga busa yang banyak dapat dihasilkan.
Tegangan permukaan rendah akan menghasilkan busa sabun yang banyak (Jannah
2008).
Sabun adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kesehatan kulit sangat bergantung pada
pilihan produk sabun yang kita pilih. Semakin basa suatu sabun maka buruk
efeknya terhadap kulit. Pada saat pencampuran NaOH dengan tallow suhu dijaga
yaitu pada suhu 35oC karena jika lebih rendah tallow atau lemak pada
suhu 25oC berbentuk padat dan jika suhu NaOH terlalu tinggi akan
panas (Susan Budavani 1989).
Tallow yang telah jadi didiamkan
selama 3-4 minggu agar menjadi sabun. Proses ini disebut dengan aging. Aging
sangat penting dilakukan dalam pembuatan sabub karena jika sabun tidak diaging
maka salah satu dampak yang ditimbulkan adalah ketika sabun dicobakan kekulit
maka akan terjadi iritasi, gatal-gatal, perih, dan merah. Reaksi iritatif tersebut
selain disebabkan oleh pH yang sangat basa juga dikarenakan oleh alkali larut
dari minyak kelapa yang bersifat iritatif. Perlu diketahui bahwa dalam proses
aging secara fisik, kimia, maupun mekanis dan ini sangat bergantung pada faktor
lingkungan dan mekanik yang dikenakan (Gates dan Grayon 1998).
Superfatting merupakan penambahan
asam lemak untuk mengurangi kadar alkali sehingga memiliki kandungan lemak dan
minyak lebih banyak untuk membuat kulit terasa lembut dan kenyal juga digunakan
untuk kulit kering karena didalam nya terdapat kandungan gliserin, petroleura
dan beewax yang dapat melindungi kulit dari iritasi dan jerawat. Banyak asam
lemak terdapat didalam sabun. Asam lemak bebas ini tidak dapat mengikat kotoran
karena bersifat polar, berbeda dengan lemak, minyak dan keringat yang bersifat
nonpolar sehingga keringat, lemak, dan minyak ini tidak dapat berikatan dengan
asam lemak bebas (Qisti 2009).
Busa merupakan salah satu parameter
penting dalam pembuatan sabun. Busa tidak secara langsung berhubungan dengan
daya bersih sabun. Namun persepsi konsumen menyatakan bahawa semakin banyak
busa sabun maka semakin baik. Busa dapat stabil dengan adanya zat pembusa. Zat
pembusa bekerja untuk menjaga agar busa tetap terbungkus dalam lapisan-lapisan
tipis, dimana molekul gas terdipersi
dalam cairan larutan-larutan yang mengandung bahan aktif permukaan akan
menghasilkan busa yang stabil bila dicampur dengan air. Tegangan permukaan
rendah akan menghasilkan busa sabun yang
banyak (Jannah 2008).
Nilai pH sabun umumnya berkisar
antara 9,5-10,8. Kulit normal memiliki pH 5. Namun pH yang terlalu tinggi dan
waktu kontak yang lama dengan kulit akan menyebabkan iritasi. Secara umum,
produk sabun cair memiliki pH yang cendrung basa karena bahan dasar penyusun
sabun cair tersebut yaitu KOH yang digunakan untuk menghasilkan reaksi
saponifikasi dengan minyak atau detergen sintetis yang memiliki pH diatas pH
normal. Sabun cair dengan pH basa dapat digunakan untuk menghancurkan lemak
pada kulit sehingga kotoran yang melekat pada lemak dapat larut dalam air
(Wasitaatmadja 1997).
Kulit merupakan organ pelipat karena
terdiri dari jaringan yang bergabung secra struktural dan membentuk fungsi
spesifik. Kotoran yang menempel pada kulit umumnya berupa lemak. Debu akan
menempel pada kulit karena adanya lemak yang menghambat fungsi kulit. Air saja
tidak dapat menghambat fungsi kulit. Prinsip utama kerja sbaun ialah gaya tarik
menarik antar molekul kotoran, sabun, dan air. Asam lemak yang menempel tidak
lain adalah asam lemak asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi
(Arifin 2007).
Praktikum mengenai pemanfaatan
tallow untuk pembuatan sabun ini memberikan hasil pengujian yang berbeda-beda
pada setiap kelompoj terhadap kadar pH, daya buih, dan iritasi. Perbedaan
tersebut disebabkan oleh kadar NaOH atau KOH dan aquades yang digunakan pada
setiap perlakuan. Semakin banyak KOH
atau NaOH yang digunakan maka pH nya akan semakin basa. Derajat keasaman atau
pH yang tinggi dan waktu kontak yang lama dengan kulit akan menyebabkan kulit
teriritasi. Nilai pH sabun berkisar antara 9,5-10,8 ( Hambali 2005).
SIMPULAN
Saponifikasi adalah reaksi
hidrolisis antara basa-basa alkali dengan asam lemak yang akan diasilkan
glierol dan garam yang disebut dengan sabun. Perbedaan perlakuan seperti
penggunaan alkali (NaOH atau KOH) dan minyak yang digunakan (minyak kelapa atau
minyak kelapa sawit) akan memberikan nilai pH awal, pH akhir dan daya buih
serta iritasi atau tidak yang berbeda-beda. Kisaran pH sabun yaitu berkisar
antara 9-10 atau tidak lebih dari 10 (tidak basa kuat), daya buih yang baik
sebaiknya menghasilkan banyak buih dan tidak menyebabkan iritasi atau gatal
pada kulit dengan melakukan proses aging agar aman digunakan oleh kulit.
DAFTAR PUSTAKA
Ananthapadamanabhan. 2004. The Impact
of Cleansers on the Skin Barier and the Technology of Mild Cleansing. Fransisco
(US) : Dermatologic Therapy.
Arifin.
2007. Sabun. Jakarta (ID): Erlangga.
Departemen Perindustrian . 1984.
Standar Mutu Sabun. Jakarta (ID). Dewan Standarisasi Nasional.
Engko. 2007.
Sabun. Jakarta (ID) : Erlangga.
Gates dan
Grayon. 1998. The Science of Food. Oxford (UK): Pergamon Pr.
Hambali. 2005. Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan
Kecantikan. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Jannah. 2008. Sifat Fisik Sabun Mandi
Transparan dengan Penambahan Madu pada Konsentrasi Berbeda. Bogor (ID) :
Institut Pertanian Bogor.
Kamikaze. 2002. Studi Awal Pembuatan
Sabun Menggunakan Campuran Lemak Abdomen Sapi (Tallow) dan Curd Susu Afkir.
Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Ketaren.
1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta (ID) : UI Pr.
Perry. 1997. Chemistry and Technology
of the Cosmetics and Toiletsries Industry. London (UK) : Blackie Adenic dan
Professional.
Qisti. 2008. Sifat Kimia Sabun Man Mandi
Transparan dengan Penambahan Madu pada Konsentrasi Berbeda. Bogor (ID) :
Institut Pertanian Bogor.
Radjanaidu.
1989. Processing Madu Lebah. Jakarta (ID) : Perum Perhutani.
Susan
Budavari. 1989. Merk Index. New York (US): Rahway, New York
Wade dan Weller. 1994. Handbook of
Pharmaceutical Excipient. Wangshington (US) : The American Pharmaceutical
Association.
Wasitaatmadja.
1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta (ID) : UI Pr.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar