Selasa, 26 Juli 2016

Pemanfaatan Tallow Untuk Pembuatan Sabun



LAPORAN PRAKTIKUM
Mata kuliah     : Teknologi Penanganan dan                   Dosen   : M. Sriduresta S, S.Pt, MSc
   Pengolahan Hasil Ikutan Ternak           Asisten :
Hari/tanggal   : Rabu/24 Februari 2016                          1. Ahmat Budiyono                        D14120001
Tempat            : Lab. Hasil Ikutan Ternak                        2. Kiki Rizqi Januar             D14120027
Kelompok/grup: 6/G2                                                      3. Yeyen Ariska                  D14120068
Praktikum ke-  : 3

PEMANFAATAN TALLOW UNTUK PEMBUATAN SABUN
Refi Sartika
D04155010
index.jpg
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sabun merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang selalu digunakan sehari-hari. Fungsi utamanya adalah membersihkan lingkungan sekitar. Banyak macam wujud sabun yang dapat ditemui baik yang dalam bentuk cair, krim, lunak, maupun yang padat. Kegunaannya pun beragam, ada yang sebagai sabun mandi, sabun cuci tangan, sabun cuci peralatan rumah tangga dan lain sebagainya.
Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan dari minyak nabati. Gugus induk lemak disebut fatty acid yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Sabun termasuk salah satu surfaktan yang terbuat dari lemak atau minyak alami. Surfaktan memiliki gugus bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidropobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran dari badan dan pakaian. Oleh karena itu dilakukan percobaan pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat sabun, sehingga akan didapat sabun yang berkualitas.
Tujuan
            Praktikum ini bertujuan mempelajari pembuatan sabun dan pengemasannya.













TINJAUAN PUSTAKA
Sabun
            Catatan pertama tentang sabun berasal dari sumeri, bangsa semit, 4500 tahun yang lalu yang menggunakan lemak tumbuhan dan bubuk kayu sebagai pembersih kulit dan baju. Kotoran yang dikeluarkan menggunakan surfaktan yang dapat mengangkat kotoran dan mengikat lemak (Ananthapadamanabhan 2004).
            Sabun adalah surfaktan yang terdiri dari gabungan antara air sebagai pencuci dan pembersih yang terdapat pada sabun batang dan dalam bentuk sabun cair. Secara kimia sabun adalah garam dari asam lemak. Reaksi kimia pada pembuatan sabun dengan hal ini dikenal dengan saponifikasi (Engko 2008).
Saponifikasi
            Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis antara basa-basa alkali dengan asam lemak yang akan dihasilkan gliserol dan garam yang disebut sebagai sabun. Asam lemak yang digunakan yaitu asam lemak tak jenuh karena memiliki paling sedikit satu ikatan ganda antara atom-atom karbon penyusunnya yang bersifat kurang stabil sehingga mudah bereaksi dengan unsur lain. Basa alkali yang digunakan yaitu basa-basa yang menghasilkan garam basa lemah seperti NaOH, KOH, NH4OH, K2CO3 dan lainnya (Kamikaze 2002).
NaOH
            NaOH merupakan salah satu jenis alkali (basa) kuat yang bersifat korosif serta mudah menghancurkan jaringan organik yang halus. NaOH berbentuk butiran padat berwarna putih dan memiliki sifat higroskopis (Wade dan Waller 1994).
            Natrium hidroksida merupakan salah satu basa kuat yang bersifat korosif serta mudah menghancurkan jaringan organik yang halus. Banyak nya alkali yang akan digunakan dalam pembuatan sabun transparan dapat ditentukan dengan melihat besarnya bilangan penyabunan (Departemen Perindustrian 1984).
KOH
            Kalium hidroksida (KOH) berupa kristak padat berwarna putih. Penambahan KOH dalam pembuatan sabun harus tepat, karena apabila terlalu banyak dapat memberikan pengaruh negatif yaitu iritasi kulit. Sedangkan bila terlalu sedikit maka sabun yang dihasilkan akan mengandung asam lemak bebas tinggi yang menganggu proses emulsi sabun dan kotoran (Perry 1997).
Minyak Kelapa
            Kekhasan minyak kelapa murni terletak pada kandungan asam lemaknya yang sebagian besar yang terdiri dari asam lemak rantai sedang. Minyak kelapa merupakan salah satu jenis minyak nabati dengan kemampuan tersendiri yang cukup penting dalam proses pembuatan sabun. Asam laurat merupakan asam lemak dominan yang terdapat dalam minyak kelapa yaitu sebesar 48,2 % dan berperan dalam pembuatan sabun dan pembusaan. Titik cair asam laurat adalah pada suhu 44oC (Ketaren 1986).
Minyak Sawit
            Tanaman sawit adalah tanaman berkeping satu yang termasuk dalam famili palmae. Buah sawit yang terdapat dalam tandan akan menjadi matang setelah berumur 20-21 minggu setelah penyerbukan bunga. Setelah mengalami beberapa tahap pertumbuhan, didalam jaringan buah akan terjadi proses sintesa lemak yang tersimpan dalam butir-butir globula lemak yang terdapat dalam sitoplasma sel mesokarp (Radjanaidu 1989).



















METODE
Alat
            Praktikum pemanfaatan tallow untuk pembuatan sabun didukung dengan alat-alat yang dapat membantu menunjang terlaksananya praktikum ini. Oleh karena itu, sebelum dilakukannya praktikum ini, praktikan harus menyediakan alat-alatnya yang meliputi timbangan, pH meter, pengaduk kayu, kantong plastik, termometer, erlenmeyer, panci stainless steel, sarung tangan, masker, cetakan, dan plastik wrap.
Bahan
            Selain alat-alat yang diperlukan, bahan-bahan atau sampel juga sama pentingnya. Dalam praktikum ini, bahan-bahan yang harus disiapkan oleh praktikan yaitu tallow (lemak sapi), minyak sawit, kristal NaOH atau KOH, dan aquades.
Prosedur
            Pembuatan sabun dari tallow ini memiliki prosedur yaitu tallow dicairkan diatas kompor dengan api kecil. Lalu, disaring dan dipindahkan ke wadah lain. Tallow yang dicairkan tadi dicampur dengan kelapa sawit kemudian diaduk terus hingga suhu nya 35oC. Selain itu, dalam hal ini juga dilakukan campuran aquades dengan KOH kristal dan diaduk hingga larutan bening. Setelah itu, campuran ini didiamkan hingga suhu 35oC. Dengan demikian, tallow yang dicampurkan dengan minyak kelapa sawit dan campuran KOH dengan aquades didalam satu wadah. Selanjutnya diaduk terus hingga campuran tersebut mengental seperti adonan pencake. Setelah itu, dicetak dan ditutup cetakan itu dengan plastik wrap. Lalu, disimpan di udara dingin atau sejuk hingga 24 jam. Keluarkan dari cetakan, dipotong sesuai ukuran serta disimpan selama 3-4 minggu. Terakhir aging 3-4 minggu, sabun bisa digunakan untuk pembersih tubuh.









HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis antara basa-bsa alkali dengan asam lemak yang akan dihasilkan gliserol dan garam yang disebut dengan sabun. Dalam hal ini dilakukan pengujian terhadap sabun yang telah jadi. Pengujian tersebut, meliputi pH awal dan Ph akhir sabun serta iritasinya. Adapun hasil dari masing-masing kelompok meliputi antara lain :
            Tabel 1. Pengujian Sabun
Kelompok
Kadar pH
Daya Buih
Iritasi
Awal             Akhir
1
2
3
4
5
6
14                    8
13                   10
12                    7
14                    9
13                   10
14                     9
++
+
++
+
+
+
+
+
+
+
+
+
Keterangan :
(1)   : (+) sedikit ; (++) banyak ; (+++) sangat banyak
(2)   : (+) tidak gatal ; (-) gatal
Pembahasan
            Proses saponifikasi yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu campuran tallow + minyak dengan NaOH atau KOH + air. Untuk tallow dan minyak prbandingan yang diberikan yaitu 80 : 20 dan NaOH atau KOH dengan air diberi perbandingan 1 : 3. Masing-masing kelompok mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda. Untuk NaOH hasilnya yaitu sabun padat sementara untuk KOH hasilnya sabun lunak. Natrium Hidroksida yang dicampur dengan pewarna membuat campurannya sama dengan warna yang diberikan sementara KOH sebaliknya. Jika dilihat dari daya busa dipengaruhi oleh jenis minyak yang digunakan dan lama proses aging yang dilakukan, sehingga busa yang banyak dapat dihasilkan. Tegangan permukaan rendah akan menghasilkan busa sabun yang banyak (Jannah 2008).
            Sabun adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kesehatan kulit sangat bergantung pada pilihan produk sabun yang kita pilih. Semakin basa suatu sabun maka buruk efeknya terhadap kulit. Pada saat pencampuran NaOH dengan tallow suhu dijaga yaitu pada suhu 35oC karena jika lebih rendah tallow atau lemak pada suhu 25oC berbentuk padat dan jika suhu NaOH terlalu tinggi akan panas (Susan Budavani 1989).
            Tallow yang telah jadi didiamkan selama 3-4 minggu agar menjadi sabun. Proses ini disebut dengan aging. Aging sangat penting dilakukan dalam pembuatan sabub karena jika sabun tidak diaging maka salah satu dampak yang ditimbulkan adalah ketika sabun dicobakan kekulit maka akan terjadi iritasi, gatal-gatal, perih, dan merah. Reaksi iritatif tersebut selain disebabkan oleh pH yang sangat basa juga dikarenakan oleh alkali larut dari minyak kelapa yang bersifat iritatif. Perlu diketahui bahwa dalam proses aging secara fisik, kimia, maupun mekanis dan ini sangat bergantung pada faktor lingkungan dan mekanik yang dikenakan (Gates dan Grayon 1998).
            Superfatting merupakan penambahan asam lemak untuk mengurangi kadar alkali sehingga memiliki kandungan lemak dan minyak lebih banyak untuk membuat kulit terasa lembut dan kenyal juga digunakan untuk kulit kering karena didalam nya terdapat kandungan gliserin, petroleura dan beewax yang dapat melindungi kulit dari iritasi dan jerawat. Banyak asam lemak terdapat didalam sabun. Asam lemak bebas ini tidak dapat mengikat kotoran karena bersifat polar, berbeda dengan lemak, minyak dan keringat yang bersifat nonpolar sehingga keringat, lemak, dan minyak ini tidak dapat berikatan dengan asam lemak bebas (Qisti 2009).
            Busa merupakan salah satu parameter penting dalam pembuatan sabun. Busa tidak secara langsung berhubungan dengan daya bersih sabun. Namun persepsi konsumen menyatakan bahawa semakin banyak busa sabun maka semakin baik. Busa dapat stabil dengan adanya zat pembusa. Zat pembusa bekerja untuk menjaga agar busa tetap terbungkus dalam lapisan-lapisan tipis, dimana molekul gas terdipersi  dalam cairan larutan-larutan yang mengandung bahan aktif permukaan akan menghasilkan busa yang stabil bila dicampur dengan air. Tegangan permukaan rendah akan menghasilkan  busa sabun yang banyak (Jannah 2008).
            Nilai pH sabun umumnya berkisar antara 9,5-10,8. Kulit normal memiliki pH 5. Namun pH yang terlalu tinggi dan waktu kontak yang lama dengan kulit akan menyebabkan iritasi. Secara umum, produk sabun cair memiliki pH yang cendrung basa karena bahan dasar penyusun sabun cair tersebut yaitu KOH yang digunakan untuk menghasilkan reaksi saponifikasi dengan minyak atau detergen sintetis yang memiliki pH diatas pH normal. Sabun cair dengan pH basa dapat digunakan untuk menghancurkan lemak pada kulit sehingga kotoran yang melekat pada lemak dapat larut dalam air (Wasitaatmadja 1997).
            Kulit merupakan organ pelipat karena terdiri dari jaringan yang bergabung secra struktural dan membentuk fungsi spesifik. Kotoran yang menempel pada kulit umumnya berupa lemak. Debu akan menempel pada kulit karena adanya lemak yang menghambat fungsi kulit. Air saja tidak dapat menghambat fungsi kulit. Prinsip utama kerja sbaun ialah gaya tarik menarik antar molekul kotoran, sabun, dan air. Asam lemak yang menempel tidak lain adalah asam lemak asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (Arifin 2007).
            Praktikum mengenai pemanfaatan tallow untuk pembuatan sabun ini memberikan hasil pengujian yang berbeda-beda pada setiap kelompoj terhadap kadar pH, daya buih, dan iritasi. Perbedaan tersebut disebabkan oleh kadar NaOH atau KOH dan aquades yang digunakan pada setiap perlakuan.  Semakin banyak KOH atau NaOH yang digunakan maka pH nya akan semakin basa. Derajat keasaman atau pH yang tinggi dan waktu kontak yang lama dengan kulit akan menyebabkan kulit teriritasi. Nilai pH sabun berkisar antara 9,5-10,8 ( Hambali 2005).
























SIMPULAN
            Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis antara basa-basa alkali dengan asam lemak yang akan diasilkan glierol dan garam yang disebut dengan sabun. Perbedaan perlakuan seperti penggunaan alkali (NaOH atau KOH) dan minyak yang digunakan (minyak kelapa atau minyak kelapa sawit) akan memberikan nilai pH awal, pH akhir dan daya buih serta iritasi atau tidak yang berbeda-beda. Kisaran pH sabun yaitu berkisar antara 9-10 atau tidak lebih dari 10 (tidak basa kuat), daya buih yang baik sebaiknya menghasilkan banyak buih dan tidak menyebabkan iritasi atau gatal pada kulit dengan melakukan proses aging agar aman digunakan oleh kulit.




















DAFTAR PUSTAKA
Ananthapadamanabhan. 2004. The Impact of Cleansers on the Skin Barier and the Technology of Mild Cleansing. Fransisco (US) : Dermatologic Therapy.
Arifin. 2007. Sabun. Jakarta (ID): Erlangga.
Departemen Perindustrian . 1984. Standar Mutu Sabun. Jakarta (ID). Dewan Standarisasi Nasional.
Engko. 2007. Sabun. Jakarta (ID) : Erlangga.
Gates dan Grayon. 1998. The Science of Food. Oxford (UK): Pergamon Pr.
Hambali. 2005.  Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan Kecantikan. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Jannah. 2008. Sifat Fisik Sabun Mandi Transparan dengan Penambahan Madu pada Konsentrasi Berbeda. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Kamikaze. 2002. Studi Awal Pembuatan Sabun Menggunakan Campuran Lemak Abdomen Sapi (Tallow) dan Curd Susu Afkir. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Ketaren. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta (ID) : UI Pr.
Perry. 1997. Chemistry and Technology of the Cosmetics and Toiletsries Industry. London (UK) : Blackie Adenic dan Professional.
Qisti. 2008. Sifat Kimia Sabun Man Mandi Transparan dengan Penambahan Madu pada Konsentrasi Berbeda. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Radjanaidu. 1989. Processing Madu Lebah. Jakarta (ID) : Perum Perhutani.
Susan Budavari. 1989. Merk Index. New York (US): Rahway, New York
Wade dan Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipient. Wangshington (US) : The American Pharmaceutical Association.
Wasitaatmadja. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta (ID) : UI Pr.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar